#navbar-iframe { display: none !important; } PANGKARAS: Korban Permainan Bapak Kost

Jumat, 09 April 2010

Korban Permainan Bapak Kost

“Huuuh..nyebelin banget sih tuh aki-aki..” gerutu Mona sambil mengunci pintu kamar kostnya. Kembali hari ini ia sebel dengan Pak Mahmud si bapak kostnya yang sering bersikap genit dan terkadang menjurus kurang ajar terhadap dirinya. Kejadiannya tadi saat dia pulang kantor berpapasan dengan Pak Mahmud yang sedang berusaha memaku sesuatu di dinding.
“Sore pak..lagi ngapain pak..?” sapa Mona demi kesopanan.
“Eh..mba Mona dah pulang..”sahut Mahmud dengan mata berbinar. “Kebetulan aku mau minta tolong sebentar bisa?”
Mona yang mau buru2 ke kmr terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Apaan pak?” tanyanya sekenanya, kembali ia kesel ngeliat pandangan mata pak tua itu yang jelalatan ke arah dadanya.
“Ini loh..kamu bisa pasangin lukisan ini ga ke paku yang dah saya pasang itu, takutnya tangganya goyang banget krn berat badan saya, maklum agak gendut gini ribet jadinya..”katanya sambil cengengesan dan kembali pandangan matanya menyantap kulit leher Mona yang mulus.”Nanti saya pegangin tangganya”
Mona menyanggupi dan dia menaiki tangga yang memang sdh goyang itu, gadis itu baru sadar pas naik ke pijakan kedua bhw tangga itu memiliki jarak yang cukup lebar antara pijakan2nya, jadi saat kakinya naik ke pijakan kedua, dirinya yang saat ini menggunakan rok span ketat agak kesulitan dan roknya menjadi ketarik ke atas sehingga pahanya menjadi terbuka. Kejadian itu berulang lagi saat ia ke pijakan ketiga, bahkan jaraknya makin jauh sehingga pahanya makin terbuka lebih lebar. Mona mengutuk dalam hati, saat melirik Pak Mahmud yang dengan senyum mesumnya menikmati paha Mona yang jenjang dan berkulit mulus bersih itu.
Melihat pemandangan indah ini, Pak Mahmud merasa nafasnya sesak sama sesaknya dengan tongkolnya yang jadi menegang. Sungguh indah bentuk paha gadis ini dan ia dengan bebas bisa melihat dari dekat, ingin rasanya mengelus paha montok nan mulus itu, tapi ia menahan diri.
Ia menyerahkan lukisan ke Mona utk dipasang, dan krn utk nyantolinnya msh agak tinggi maka gadis itu harus memasangnya dengan mengangkat tangannya setinggi mungkin, ia tdk sadar bhw krn gerakannya itu blusnya yang pendek ikut tertarik ke atas sehingga terlihat kulit pinggangnya yang ramping sampai ke perut di bawah dadanya. Dengan sengaja Pak Mahmud menggoyangkan tangganya sehingga memperlama dirinya utk bisa menikmati pemandangan pinggang berkulit mulus gadis itu.
Setelah selesai terpasang, Mona menurunkan kaki kirinya ke pijakan kedua yang ternyata tanpa sepengetahuannya telah dilonggarkan pakunya. Sambil terus menikmati paha Mona yang terbuka kembali, Pak Mahmud bersiap-siap.
“Eiiihh…eiihh..”Mona menjerit kecil saat pijakannya lepas dan ia terjatuh belakang dan saat itu dengan sigap Pak Mahmud menangkap Mona sehingga tdk sampai terjatuh lebih parah.
Merah muka gadis itu krn satu tangan yang menahan dirinya memegang tepat ke pantatnya dan sepertinya ia merasa tangan itu sedikit meremasnya. Dengan cepat ia menjauhkan badannya dari “pelukan” Pak Mahmud yang mengambil kesempatan itu.
“Waduh, untung sempet saya pegangin mba nya, kalo ngga bs berabe tuh..”ujar Pak Mahmud cengengesan yang masih menikmati hangatnya tubuh dan kenyalnya pantat Mona tadi walau sesaat tadi.
“Mmm..iya pak, makasih..udah kan pak ya..” tukas Mona sambil ngeloyor pergi dengan diikuti pandangan Mahmud yang menikmati gerakan pinggul gadis yang montok itu.
“Hmmm..tunggu aja ntar ya..lo bakal kena ama gw..”pikir pria tambun setengah tua ini dalam hati. Sudah banyak planning2 yang kotor dan mesum darinya yang memang punya sedikit kelainan seks ini.
Di dalam kamar, Mona masih sebel sama kejadian tadi. Udah terlalu sering ia mendapat perlakukan atau kata2 yang menjurus mesum dari bandot tua itu, tapi ia berusaha menahan diri mengingat bhw tempat kost ini cukup murah dengan fasilitas yang ada juga ditambah lagi dengan lokasi yang ditengah kota dan dekat ke tempat kerja atau mau kemana-mana. Maka ia memutuskan utk ttp bertahan asalkan si mesum itu tidak terlalu kurang ajar. Kalo ketemu pasti Mona merasa risih dan agak ngeri ngeliat mata Mahmud yang seperti menelanjangi sekurjur tubuhnya, tp terkadang selain ngeri dan risih gadis itu juga merasakan bangga dan senang krn kecantikan dan tubuhnya menjadi perhatian sampai seperti itu walau Mahmud bukan levelnya utk bisa menikmati dirinya.
Beberapa kali kalau berpapasan sama Mahmud dan berbincang-bincang, selalu saja tangannya tidak pernah diam menjamah, walau hanya menjamah pundak atau lengannya tetap aja gadis itu merasa risih bgt krn sambil melakukan itu bpk kost itu merayu2 dgn kata2 yang kampungan.
“Ahh..udahlah, ga penting juga..mendingan gw mandi” kata Mona dalam hati, sambil berkaca ia mulai melepas satu per satu kancing blusnya dan melepasnya sehingga bagian atasnya kini hanya tertutup BH biru muda yang susah payah berusaha menutupi payudara berukuran 34D itu. Dengan pinggang yang ramping, maka buah dada itu tampak sangat besar dan indah dan karena Mona rajin ke fitness makin tampak kencang dan padat. Sungguh merupakan idaman bagi semua laki2 di dunia bagi yang dapat menikmatinya.
Lalu ia melanjutkan dengan melepas rok span-nya ke bawah sehingga kini tubuh yang memiliki tinggi 168cm ini hanya ditutupi bra dan cd yang berwarna senada. Body yang akan membuat laki2 rela utk mati agar bisa mendapatkannya, memiliki kulit putih asia dan dihiasi dengan bulu2 halus nan lembut. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan dunia tiada tara.
Mona melepas kaitan bra disusul dengan cd-nya yang segera di lemparkan ke ember tmpt baju kotor, ia memandang sejenak ke cermin, melihat payudaranya seperti “bernafas” setelah seharian dibungkus dengan bra. Gumpalan daging yang kenyal dan padat dengan puting berwarna coklat muda sungguh menggairahkan.
“Auuh…” gadis itu sedikit merintih atau tersentak saat ia memegang kedua putingnya, serasa ada aliran listrik menyengat lembut dan menimbulkan rasa sensasi geli pada kemaluannya yang tanpa sadar tangan kirinya turun kea rah vaginanya dan sedikit membelainya.
Sambil senyum2 sendiri, gadis itu membayangkan dada telanjangnya dan membusung ini selalu menjadi sasaran remasan dari Roy pacarnya yang tidak penah bosan2 juga mengulum2 puting dan menciumi kulit susunya yang mulus dan harum itu. Tidak percuma ia setiap 3 hari sekali memberikan lulur pada tubuhnya, terutama pada payudaranya yang sampai skrg memiliki aroma yang memabokkan walaupun dalam kondisi berkeringat.
Mona menghela nafas panjang menahan gejolak birahi yang timbul, dan sekarang ia merasa ingin dilampiaskan. Padahal baru td malam ia berenang di lautan asmara yang menggelora dengan pacarnya. Ia merasa dirinya selalu saja haus akan belaian pacarnya, padahal hampir setiap ketemu mereka bercumbu dgn hot, dan yang suka bikin ngiler adalah mengulum tongkol Roy sampe bisa keluar spermanya. Kini ia membayangkan ukuran tongkol Roy aja udah bikin deg-degan, ga sabar utk ketemu dan mengemut-ngemut batang kemaluan yang kokoh itu.
“Huuuh..mending gw mandi aja deh, otak gw jd kotor nih..”
Selesai mandi, sedikit terusir pikiran2 tadi krn sdh tersiram air dingin. “Loh, kok ga bisa sih nih..?” Mona sudah beberapa saat ngga bisa memutar kunci lemari bajunya, ia masih coba terus beberapa saat tapi masih ga bisa juga.
“Duh, mesti minta tolong ama bandot itu dong..” keluhnya, untungnya masih ada baju di keranjang yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari. Tapi setelah memilih-milih, di keranjang baju itu hanya ada underwear 2 pasang dan baju2 khusus tidur yang tipis dan seksi serta baju daleman sexy seperti tanktop n rok mini yang mininya 20 cm dr lutut. Dari pada pake baju tidur tipis ia memilih rok mini dan tank top yang rendah belahannya.
Sblm ke Pak Mahmud, Mona memilih utk makan malam dulu di ruang makan bersama, sambil makan ia menyalakan tv dan ia duduk di ujung sofa.
“Ehh..mba Mona baru makan ya..bapak temenin ya, ga baik cewe sesexy kamu makan sendirian” tiba2 si bandot itu muncul, dan lgs menyantap paha Mona yang disilangkan itu, sungguh mulus. Lalu ia duduk di samping gadis itu.
“Ia pak..sekalian makan pak…trus sama minta tolong kok lemari baju saya ga bs dibuka yah?” pinta Mona sambil menggeser menjauh dan berusaha dengan sia2 menarik turun rok mininya. “buset tuh mataaaa…abis gw..” katanya dalam hati.
“Ooo gitu, nanti saya periksa deeeh…”
“Makasih ya pak”
Mona buru2 nyelesaiin makannya, saat tiba2 ia merasa dadanya bagian putingnya terasa gatal. Awalnya berusaha ditahan saja tapi makin lama makin meningkat rasa gatalnya, dan bukan itu saja kini ia merasakan hal yang sama pada vaginanya. Ia msh berusaha menahan tapi sudah hampir tidak kuat, duduknya jd gelisah dan ia berusaha menggoyang2kan badannya agar rasa gatal itu hilang bergesekan dengan bahan bra-nya dan ia mempererat silangan kakinya. Tapi rasa gatalnya tdk berkurang, bahkan kini seluruh daging kenyal payudaranya terasa gatal.
“Ouuuhh..”akhirnya Mona tdk tahan dan ia menggaruk sedikit ke 2 toketnya dengan tangannya, saat ia menggaruk terasa nyaman sekali krn gatalnya berkurang tapi sulit utk berhenti menggaruk. Sambil memejamkan matanya krn keenakan menggaruk ia lupa ada Pak Mahmud di situ.
“Kenapa kamu? Kamu kegatelan yaah..?”
“Uuuhh…sssshh..ehm, i…iya pak..”terkejut Mona krn baru ingat ada si bandot di sampingnya, tapi ia terus menggaruk makin cepat dan krn tak tahan ia menggaruk juga ke pangkal pahanya..
“Uuuuuffh..ssshh…” aliran darah Mona berdesir cepat krn sensasi menggaruknya itu selain menghilangkan rasa gatal juga membuat birahinya tergelitik. “per..permisi pak..uuffh..” sambil terus menggaruk ia mau bangkit dr kursi tapi rasa gatal itu makin menghebat yang akhirnya dia hanya teduduk kembali sambil terus menggaruk, sedetik ia melihat Mahmud hanya menonton dengan pandangan penuh nafsu setan ke dirinya yang terus menggaruk2 itu. Gadis itu mengutuk krn ia memberikan tontonan gratis kepada aki2 itu tanpa dapat ia mencegah.
Gerakannya makin cepat dan tdk karuan krn kedua tangannya hanya bisa menggaruk 2 bagian dari 3 bagian tubuhnya yang terserang itu, kini rok mininya sdh tersingkap semua krn ia hrs menggaruk liang kemaluannya sehingga memperlihatkan kedua pahanya yang jenjang dan berkulit putih mulus itu. Gadis itu terus merintih-rintih karena kini rasa gatalnya spt-nya tidak bisa digaruk hanya dengan garukan yang masih terhalang kaos dan bh untuk kedua payudaranya dan cd tipisnya utk memiawnya, tubuhnya serasa lemas krn rasa gatal dan birahinya yang kini membuat memiawnya menjadi basah dan ia merasa putingnya mengeras.
“Misi pak…mau ke kamar dulu niiih..uuhh..” Kata Mona, tapi Pak Mahmud diam saja menghalangi jalan keluarnya. Rasanya ingin marah saja tapi rasa gatal itu menghalangi rasa marahnya.
Krn akhirnya ia tdk tahan dan tdk bisa mencegah lagi, dengan serabutan dan cepat ia menarik tali tank topnya kebawah dan menarik turun branya sehingga kini buah dadanya telanjang yang segera ia menggaruk dengan cepat 2 gunung indah itu terutama putingnya yang kini sudah mancung dan mengeras, kakinya bergerak blingsatan krn rasa gatal pada memiawnya makin menghebat.
Pak Mamud tertawa dalam hati, ia menikmati melihat indahnya pemandangan di depannya itu, betapa buah dada Mona yang berbentuk bulat kencang itu tdk tertutup apapun serta baju Mona yang sudah tdk keruan, senang ia melihat gadis yang cantik tapi sombong ini kini tampak tidak berdaya. Rencana awal ini berhasil dengan baik, yang ternyata ia telah mengganti kunci lemari baju Mona dan menaruh bubuk gatal pada pakaian dalam gadis itu dan sengaja memilihkan baju yang seksi tertinggal di luar lemari.
Tangan Mona masih bergerak cepat berpindah-pindah mencoba menggaruk 3 bagian tubuh, makin lama makin menghebat dan dari mulutnya meracau tidak jelas. Dengan susah ia berusaha menggaruk vaginanya secara langsung tapi ia kesulitan krn harus menggaruk putingnya.
“Saya bantu ya sayang…” tanpa disuruh ia menarik turun celana dalam tipis Mona, shg skrg terlihat “bibir” bawah tsb yg dihiasi bulu-bulu halus. Tampak indah sekali dan menggairahkan.
“Nggeeh..ja..gan kurang ooouhh..”ia tdk dapat melajutkan umpatannya krn ia menikmati garukan pada vaginanya walau ia hrs berpindah lagi sambil merintih2 terus, ia terkejut sesaat ketika tangan Pak Mahmud mengelus-elus pahanya, tapi ia tidak bisa memperdulikannya lagi yang penting ia hrs terus menggaruk.
Dengan leluasa Pak Mahmud menjelajahi lekuk liku tubuh montok itu tanpa penolakan, kulit pahanya terasa lembut dan daging paha sintal itu terasa kenyal dan hangat dalam usapannya, karena belaian2 yang dilakukannya ini membuat Mona makin menggelinjang krn kini birahinya sdh melonjak.
“Biar ini aku yang bantu yaah..” dengan sigap jari2 tangannya hinggap di memiaw Mona dan menggesek2 dengan liar.
“Ouuuuhh…ss..stoopp…aiiieh…iyaa…ouuhh” ngga jelas Mona mau ngomong apa, sedetik ia tahu memiawnya sdg diobok-obok oleh orang yang dia sebel, tp ia tdk tau dan tdk berdaya krn rasa gatal dan nafsunya yang memuncak sehingga dia tdk mampu menolak perbatan Mohmud, kini ia focus menggaruk payudaranya, tdk hanya digaruk tapi juga diremas-remas dan memuntir-muntir putingnya sendiri.
Dengan leluasa Mahmud menggesek-gesek bagian tubuh yang paling rahasia milih Mona itu, hampir 5 menit kini liang memiaw itu sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak2 krn gerakan jari2 Mahmud yang sudah ahli itu.
“aaahh..jgn dilepas..ohh…pak..” jerit Mona saat tangan Mahmud mengangkat tangannya dari memiawnya yg sudah basah itu dan malah “cuman” mengelus-elus pahanya dan meremas pantatnya.
“Kenapa sayang..? kamu mau aku utk terus mengobok-obok memiaw kamu..?” tanya Mahmud.
“Ngeh..ngeh..iii yaaa paakk…ouufh..” diantara engahannya
“kamu yakin..??”
“uuhh…ngeh…sssh..” ia hanya mengangguk
“kamu mohon dong sama aku..paaak Mahmud sayang, tolong obok-obok memiaw saya…please saya mohon”
Mendengar perintah itu, sekejap Mona merasa malu dan marah tapi segera terganti kebutuhan body-nya yang sudah terbakar birahi scr aneh itu. Ia berusaha utk tdk mengucapkan itu dengan terus menggaruk, tapi ia tidak kuat..
“ouuh..ngeh..Pa..Pak Mahmud sssss….sayaaang, ooh..tol..long obok…obok memiaw…nggeh…memiaw sayaaaa…pleeeeease…uuuff.. saya mohoooonn…” erang Mona.
“Tentu sayang…”
Lalu dengan sigap jarinya menggerayangi bibir memiaw Mona yang becek itu dan menggesek2 dengan cepat, Mona melenguh penuh nikmat sambil meregangkan badannya, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisnya…
“Haaa..ternyata disitu yaaa…” dengan ahli ia memainkan jari itu pada g-spot tsb yang mengakibatkan Mona mendesah-desah. Gadis itu merasakan terbentuknya sensasi orgasme menanjak naik..
“Oouuhh…ja.nggaannn..” ia berusaha menahan dirinya, tapi gerakan jari Mahmud makin menggila dan terus menggila, ia sudah hampir tdk tahan. Sambil menggigit bibirnya dan memejamkan matanya ia berusaha menahan klimaksnya, tdk mengira bhw dirinya dapat dibuat klimaks oleh Mahmud.
“Ouuuuuuhhhhhh….aaaiiiieeeeeeeeeee…..” dengan teriakan panjang Mona mencapai puncaknya dan tubuhnya menggetar keras. Cairan makin deras membahasai liang memiawnya, ia menikmati setiap detik sensasi luar biasa itu. Tubuhnya makin lemas dan pandangannya nanar. Ia tak mampu menolak saat Mahmud menunduk dan mencium bibirnya yang tipis.
“mmmmmpphhh…..” Mona mengerang dan sulit menolak saat lidah Mahmud memasuki rongga mulutnya dan melilit-lilit lidahnya, bahkan tanpa sadar ia membalas ciuman itu. Sementara tangan Mahmud masih mengocok kencang dan gadis itu merasakan kembali orgasmenya mau menyeruak lagi..apalagi saat ciuman Mahmud berpindah mencium putting kirinya..
“Auukkh..ssttopp..ssssshh…ssshh..” tapi Mona malah membusungkan dadanya mempermudah Mahmud menikmati putting kerasnya. Kini rasa gatalnya sudah terganti dengan desakan nafu setan yang tdk pernah terpuaskan, tangannya yang bebas dituntun oleh Mamud ke tongkolnya di balik sarungnya.
“oouuh..bes..bessar bgt ppaakk..” gumam Mona tanpa sadar saat merasakan batang hangat yang berdenyut-denyut dalam genggamannya, ia melirik kearah batang kemaluan Pak Mahmud yang ternyata lebih besar dibanding milik pacarnya, pikiran nafsunya tanpa sadar membayangkan apakah ia mampu untuk mengulum tongkol itu dalam mulutnya atau membayangkan bagaimana rasanya bila tongkol itu menyerang memiawnya.
Dengan birahinya yang terus membara dan terus dijaga geloranya oleh Mahmud, Mona dgn suka rela mengocok-ngocok tongkol raksasa Pak Mahmud itu, ia sdh tdk ingat akan bencinya dia thd aki2 berumur 60 tahun itu. Mahmud mulai mendesah-desah keenakan diantara kulumannya ke kedua puting Mona.
“aaaaaaannggghhhhh…pppaaaakkhh……aaaaaaannggghh…” Mona mencapai klimaks sampai dua kali berturut-turut krn kocokan tangan Mahmud, matanya makin nanar dan bibir seksinya menyeringai spt menahan sakit.
“Skrg kamu isep punya bapak yaa..kamu kan jago kalo sama pacar kamu”
“ouuh..ngga ma..mau..ap…aauupphhh..mmmhh..” Mona yang lemas akibat klimaks td tak berdaya menolak saat Mahmud menarik lehernya membungkuk ke arah batang “monas” nya, tdk memperdulikan protes Mona yang ia tau hanya pura2 krn sebenarnya sudah jatuh dalam genggamannya. Kini dengan dengan bibirnya yang seksi dan lidah yang hangat lembut itu mulai mengulum batang kemaluan itu.
“Oooh..enak sayaaang…kamu memang jago..sssshh…kamu suka kan..?” tanyanya
“mmmmmpph…sllluurpp..mmmmmm”hanya itu yang keluar dr mulut Mona, yang dgn semangat memainkan lidahnya menjilati dan menghisap tongkol Mahmud. Aroma dan rasa dari tongkol laki2 itu telah menyihirnya untuk memberikan sepongan yang paling enak.
“Bapak tau..kamu cuman cewe sombong yang sebenarnya punya jiwa murahan dan pelacur…plaakk..!!”
Mona tersentak saat pantat bulatnya ditepak oleh Mahmud, mukanya merah dan marah tapi sebenarnya malah membuat dia makin terangsang dan makin cepat ia mem-blow job tongkol Mahmud. Belum pernah ia merasakan birahinya dibangkitkan dengan cara kasar ini, tapi ia tau bhw ia sangat menikmatinya. “Kurang ajar nih aki2..” gerutunya dalam hati dan ia menggigit gemas ke tongkol Mahmud yng membuat aki2 itu mengelinjang dan lidahnya makin cepat menyapu urat di bawah tongkol itu.
“Ayo..sekarang kamu naikin tongkol aku..”
Tanpa berucap Mona mulai menaiki ke atas tubuh tambun Mahmud, dengan deg2an menanti tongkol besar itu ia menurunkan pinggulnya dengan dibantu tangan Mahmud yang memegang pinggangnya yang ramping.
“Ooooh..” Mona mengeranga saat ujung “helm” tongkol itu bersentuhan dengan bibir memiawnya dan mulai memasuki liang surga. Kembali ia mengerang menahan sedikit sakit saat baru masuk sedikit, liang memiawnya berusaha mengimbangi diameter tongkol Mahmud itu.
“Enak kan sayang….”
“Hmmmmm…nggh…” Mona hanya mengerang dan memjamkan mata menunggu tongkol itu kan membenam ke dalam memiawnya. Tapi Mahmud hanya menggesek-gesek liang memiaw Mona itu dengan ujung kepala “meriamnya”, gadis itu menggoyang-goyang pinggul seksinya dan berusaha menurunkan badannya, tapi Mahmud tetap menahan pinggulnya sehingga tetap belum dapat “menunggangi” tongkol Mahmud.
“Hemmm…kenapa sayang? Udah ga sabar yaa ngerasain tongkol bapak..?”
“Huuh?..nggeeeh…aa..paahh…” Mona ngga tau harus ngomong apa, msh tersisa gengsi pd dirinya.
“Hehehe..msh sok alim uuh..kamu ya..? Kalo kamu mau tongkol bapak, kmu harus memohon dgn mengaku diri kamu itu cuman perek murahan dan lakukan dengan seksi..”
“aaahh…sssh..knp mes..ti gitu paakk…pleaaase…” Mona sdh benar2 terangsang dan tdk bisa berfikir jernih lagi, dlm pikirannya kini hanya tongkol Mahmud saja.
Mahmud mendengus dan spt hendak memindahkan tubuh Mona diatasanya, merasa perbuatan itu.
“Oouuh ooke..okeeh paaak…ngeh, tega bgt sih bapak…oouf paak, tolong masukin tongkol ba..ngeehh..bapak ke memiawku paak, ent*tin sayaaa ooh paakk…akkuu..memang cewe murahan yang sok suci..nggeh..pleease..paakk..akuuu mohooon…” pinta Mona memelas sambil meremas-remas kdua payudaranya.
“Hehehehe…kamu tergila-gila ya sama tongkol bapak..”
“Iyaa ppaakkh…please..aku ga tahaaan paakk…”
“tongkol pacar kamu ga ada apa2nya kan..”
“oouuh..jauuh pakkk..punya bapak lbh hebaat dan enaaaakk…”
“Hehehe..good…ini dia hadiahnya..”
Mahmud lalu menarik ke atas tubuh Mona dan menurukannya kembali, dengan diiringi erangan Mona merasakan tongkol itu makin dalam masuknya dan sulit ia menahan diri utk tdak klimaks yang keempat kalinya. Mona kembali menaikkan badannya dan menurunkan kembali sehingga sudah ¾ tongkol itu diemut memiawnya. Gerakannya diulangi berkali-kali, awalnya perlahan tapi makin lama makin cepat krn memiawnya sudah bisa “menerima” tongkol berukuran di atas rata2 itu.
Gadis itu sudah benar2 dikuasai nafsu birahinya dan ia merasa terbang ke awang2 merasakan gesekan2 tongkol Mahmud dgn dinding vaginanya, tidak sampai 5 menit Mona sdh merasakan akan keluar lagi.
“Ouuh..gilaaa..paaakkh..oouuuhhhhhhhhh..” Mona mencapai klimaksnya lagi dan ia terus bergerak naik turun menunggangi tongkol yang masih perkasa itu. Buah dadanya yang besar menggantung itu bergerak naik turun mengikuti irama gerakan badannya, dgn nikmat Mahmud meraup gumpalan daging kenyal itu dan meremas-remasnya dengan gemas. Dengan liar ia terus menunggangi tongkol itu, diiring dengan bunyi “plok..plok..plok..plok..” yang makin cepat akibat beradunya badan Mona dengan perut buncit Mahmud.
Hampir 15 menit Mona menikmati hunjaman2 tongkol itu, dalam periode itu Mona sdh mencapai orgasme sampai 4x lagi, ia tdk dpt menahan utk tdk melenguh dan berteriak nikmat. Pikirannya sulit utk focus bhw ia telah dibuat klimaks oleh seorang laki2 yang pantas jadi ayahnya. Ia merasa lemah sekali akan nafsu yang menguasainya, tapi sungguh terasa nikmat sekali yang tdk mampu ditolaknya.
Mahmud juga sudah hampir mencapai puncaknya, tongkolnya telah mengeras sampai maksimal dah hal ini juga dirasakan oleh Mona, ia mempercepat gerakan naik turunnya yang menyebabkan buah dada montoknya bouncing naik turun makin cepat.
“Uuuaaahh…gilaaaaa…ooouuuhhh…” Akhirnya Mahmud tidak dpt menahan lagi, spermanya muncrat seiring dengan klimaksnya yang ternyata berbarengan dengan klimaks yang sangat kuat dari Mona. Mahmud merasakan dinding vagina Mona yang hangat itu bergetar menambah kenikmatan klimaksnya.
Dengan lunglai Mona turun dari tunggangannya dan rebah di samping Pak Mahmud yang juga msh merem melek habis menikmati tubuh gadis cantik dan sexy itu.
“Kamu memang hebat hebat cantik…”
“Cukup pak..ngeh, aku ga tau knp bisa kaya gini tadi..ini hrsnya gak terjadi, cukup sekali ini terjadi..” Mona yang sdh mulai jernih pikirannya, ia kini sangat menyesali bhw ia menyerahkan dirinya secara sukarela kepada Mahmud. Ia memutuskan untuk pindah kost dan kejadian td hrs dikubur dalam2 tdk boleh ada yang tahu.
Melihat Mona yang mulai membereskan bajunya dan hendak pergi, Mahmud bergerak cepat. Ia memegang leher belakang Mona yang sedang membungkuk hendak mengambil cdnya lalu dengan cepat membenturkannya ke meja kayu yang ada didepan mereka duduk.
“uuuugghhh….” Kerasnya benturan itu membuat ia setengah pingsan.
“hehehe..ga secepat itu sayang..kamu akan jadi milikku..” Mahmud lalu menarik tangan Mona dan gadis itu mandah saja dibawa dengan setengah sadar masuk ke kamar Mahmud. Lalu setelah melepas sisa bajunya, ia merebahkan tubuh telanjang yang msh lemas itu ke atas ranjangnya.
Lalu ia mengikat kedua pegelangan kaki dan pegelangan tangan Mona ke ujung ranjang besi, sehingga kini tubuh telanjangnya itu dalam posisi kaki yang mengangkang lebar.
“uuuh..apa2an inih…lepasin paak…”dgn suara msh serak dan lemah Mona berontak dengan percuma, ia mulai takut apa yang hendak dilakukan. Melihat posisi dan kondisi Mona yang menggairahkan itu, Mahmud tidak tahan lagi ia membungkuk lalu menciumi toket montok dan memainkan lidahnya mengecupi puting Mona yang sebentar saja lgs mengeras.
“Ouuh..pak..! lepasin saya pak…kalo ngga sa…aauupphh…mmbbllllmmmmm…”Mona tdk dapat melanjutkan omongannya krn ditutup lakban oleh Mahmud. Kini kesadaran Mona sudah mulai pulih, ia masih terus berusaha memberontak utk melepaskan ikatan kaki dan tangannya tapi ikatan itu sungguh kuat. Ia mulai takut krn kini ia tdk berdaya dan berada dlm kekuasaan Mahmud. Pandangan matanya mengikuti Mahmud seperti mata kelinci yang sedang ketakutan melihat serigala yang akan memangsa, dan air matanya mulai meleleh di pipinya.
“Eeeiih..kenapa nangis cantik? Aku plg ga suka liat cewe nangis…tapi skrg kita liat film dulu ya…”ujar Mahmud sambil memasang kabel menghubungkan dari hand cam ke tv. Lalu ia mulai menyetelnya.
Mata Mona terbelalak kaget saat melihat tayangan video di layar tv, jantungnya serasa akan copot dan kepalanya tiba2 pusing mendadak melihat adegan per adegan dari video itu. Ternyata kejadian di sofa ruang tengah tadi semuanya direkam oleh Mahmud dr tmpt tersembunyi, terlihat jelas saat ia melihat diirinya mulai merasakan gatal yang menyerang, mulai mencopoti bajunya dan sampai kejadian dia berhubungan sex dengan Mahmud. Perasaannya makin hancur saat ternyata Mahmud tdk hanya merekam dari 1 sudut saja, terdapat 4 handicam tersembunyi yang merekam seluruh kejadian. Bahkan saat ia memohon kepada Mahmud untuk mengobok-obok memiawnya dan pengakuan dia sbg cewe murahan juga terdengar jelas.
Wajah gadis yang cantik itu jadi pucat dan tubuhnya bergetar, ia sdh menduga apa yang akan diminta oleh Mahmud dengan adanya video itu. Perasaannya geram, marah, benci, takut dan lain2 bercampur aduk, kini ia hanya dpt menangis. Terlihat jelas bagaimana wajahnya menunjukkan dirinya menikmati setiap detik permainan panas itu dengan aki2 tambun yang sudah tua.
“Percuma kau menangis..kini kamu akan merasakan akibatnya krn selama ini menjadi cewe sombong yang sok suci. Bapak tau apa yang kamu lakukan sama pacar kamu selama ini, nah..sekarang kamu harus nurut apa yang bapak mau, kalo ngga bapak jamin film ini akan nyebar kemana-mana, kamu ngerti…??” Tanya Mahmud.
Mona hanya mengangguk lemah dengan pandangan sayu.
“Sekarang yang aku minta kamu tidak boleh nangis selama kamu melayani saya..bisa..?? kalo tetap nangis kamu akan terima hukuman yang berat..”
Kembali Mona hanya mengangguk dan berusaha menahan air matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bhw akan ada jalan keluar nantinya. Tanpa sadar ia membayangkan kejadian tadi, dan ia teringat akan ukuran tongkol Pak Mahmud yang memang di atas rata2. Dengan pikiran itu tanpa dpt dicegah terasa desiran2 halus di perutnya dan ia merasa putingnya agak mengeras. “sayang…yang punya tongkol si Mahmud anjing itu..” pikirnya.
Mona melotot kaget saat Mahmud mengambil sesuatu dari lemari yang ternyata merupakan dildo vibrator yang berukuran panjang. Mahmud kini duduk di ranjang di dekat kakinya yang ngangkang itu, memperlihatkan memiawnya yang terbuka menantang, lalu ia mengusap dengan tangannya yang mengakibatkan Mona terhentak.
“Kayanya udah basah nih..udah siap yah..” goda Mahmud, lalu ia membungkuk dan wajahnya kini sudah di depan liang surga milik gadis cantik itu, tiba2 Mona menggelinjang saat lidah Mahmud menciumi dan menjilati memiawnya. Untuk beberapa saat Mona menggelinjang-gelinjang, nafasnya kembali memburu dan pandangan matanya sayu.
“Ngggeehhhhhhhh…!” Mona menjerit dengan mulutnya yang tertutup lakban, saat Mahmud memasukkan dildo ke dalam lubang kemaluannya yang sudah basah dan ngilu itu dan terus mengerang krn dildonya makin dalam ditusukkannya. Kembali ia menggelinjang hebat saat Mahmud menyalakan vibartornyanya. Terasa sakit, tapi setelah beberapa menit rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang tergantikan dengan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan atau pernah ia bayangkan. Kini erangannya terdengar seperti rintihan2 kenikmatan diiringi dengusan nafasnya yang memburu.
Mona melenguh panjang dan pelan, merasakan tubuhnya makin panas dan terangsang. Rasa menggelitik di perut bag bawah makin menggila dan menggelora. Dengan rasa malu dan kaget, ia mencapai klimaksnya dengan sensasi yang luar biasa..”
“nngggggghhhhh…mmmmmmmmmmhhhhh…..!!!!” Tubuh montoknya menegang sesaat ketika klimaksnya menyerang, pandangan matanya makin sayu. Tapi dildo itu tetap bergetar seperti mengoyak-ngoyak bag dalam vaginanya, dan rasa nikmat kembali dirasakan makin meningkat, nafasnya memburu dan kini pikirannya sdh tdk terkontrol, nafsu birahinya terus membara krn dildo itu.
“Naah..kamu seneng aja ya ditemenin ama dildo bapak ya…tenang aja, getarannya akan makin keras kok udah saya setting dan bapak colokin ke listrik..hehehe..bapak mau bikin back up utk film kamu tadi ya..” kata Mahmud, ia hanya ketawa melihat Mona memandangnya dengan tubuh telanjangnya yang menggeliat-geliat, tubuh montok yang tampak berkilat krn keringat
Mahmud makin tertawa krn Mona mengerang lagi krn telah orgasme utk kesekian kalinya, lalu ia meninggalkan Mona yang terus mengerang-erang krn getaran dildo itu. Tidak terhitung berapa kali Mona dipaksa untuk orgasme, tubuhnya mengkilat krn basah oleh peluhnya, gadis itu merasa lemas sekali tapi dildo yang menancap di memiawnya memaksa dia untuk terus dirangsang. Akhirnya karena tidak kuat lagi, gadis malang itu jatuh pingsan.

 

blogger templates | Make Money Online