#navbar-iframe { display: none !important; } PANGKARAS: 2010 Apr 8

Kamis, 08 April 2010

Frans Dan Menantunya

Frans, 56 tahun, dengan perutnya yang gendut yang kebanyakan minum bir, kepalanya mulai botak dan sudah menduda selama 10 tahun. Setelah rumahnya dijual untuk membayar hutang judinya, dia terpaksa datang dan menginap di rumah putranya yang berumur 28 beserta menantu perempuannya. Sekarang dia harus menghabiskan waktunya dengan pasangan muda tersebut sampai dia dapat menemukan sebuah rumah kontrakan untuknya.

Diketuknya pintu depan dan Ester, menantu perempuannya yang berumur 24 tahun, muncul dengan memakai celana pendek putih dan kemeja biru dengan hanya tiga kancing atasnya yang terpasang, memperlihatkan perutnya yang rata. Rambutnya yang berombak tergerai sampai bahunya dan mata indahnya terbelalak menatapnya.

"Papi, aku pikir Papi baru datang besok, mari masuk", katanya sambil berbalik memberi Frans sebuah pemandangan yang indah dari pantatnya.

Dengan tingginya yang 175 itu, dia terlihat sangat cantik. Dia mempunyai figur sempurna yang membuat lelaki mana pun akan bersedia mati untuk dapat bercinta dengannya.

"Johan masih di kantor, sebentar lagi pasti pulang."
"Kupikir aku hanya tidak mau ketinggalan bus", kata Frans sambil duduk.
"Tidak apa-apa", jawab Ester sambil membungkuk ke depan untuk mengambil sebuah mug di atas meja kopi.

Dengan hanya tiga kancing yang terpasang, itu memberi Frans sebuah pemandangan yang bagus akan payudaranya, kelihatan sempurna. Memperhatikan hal tersebut menjadikan Frans ereksi dengan cepat, dan dia harus lebih berhati-hati untuk menyembunyikan reaksi tubuhnnya. Ester duduk di sofa di depan Frans dan menyilangkan kakinya, memperlihatkan pahanya yang indah. Posisi duduknya yang demikian membuat pusarnya terlihat jelas ketika dia mulai bertanya pada Frans tentang perjalanannya dan bagaimana keadaannya.

"Perjalanan yang melelahkan", Frans menjawab sambil matanya menjelajahi dari kepala hingga kaki pada keindahan yang sedang duduk di depannya.

Sudah lebih dari 5 tahun sejak Frans berhubungan seks untuk terakhir kalinya. Setelah isterinya meninggal, Frans sering mencari wanita panggilan. Tetapi hal itu semakin membuat hutangnya menumpuk, dan dia tidak mampu lagi untuk membayarnya. Ester menyadari kalau kemejanya memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya pada mertuanya, maka dia dengan cepat segera membetulkan kancing kemejanya.

"Aku harus ke atas, mandi dan segera menyiapkan makan malam. Anggap saja rumah sendiri", katanya sambil berjalan naik ke tangga.

Mata Frans mengikuti pantat kencangnya yang bergoyang saat berjalan di atas tangga dan dia tahu bahwa dia memerlukan beberapa 'format pelepasan' dengan segera. Kemudian telepon berbunyi. Frans mengangkatnya.

"Halo"
"Hallo, ini Papi ya?", itu Johan.
"Ya Jo", jawab Frans.
"Pi, aku khawatir harus meninggalkan Papi untuk urusan bisnis dan mungkin nggak akan kembali sampai Senin. Ada keadaan darurat. Maafkan aku soal, ini tapi Papi bisa kan bilang ini ke Ester, aku harus mengejar pesawat sekarang. Maafkan aku tapi aku akan telepon lagi nanti".

Mereka saling mengucapkan salam lalu menutup teleponnya. Lalu Frans memutuskan untuk menaruh koper-kopernya. Dia berjalan ke atas, melewati kamar tidur utama, terdengar suara orang yang sedang mandi. Frans menaruh koper-kopernya dan pelan-pelan membuka pintu kamar tidur itu lalu menyelinap masuk. Ada sepasang celana jeans berwarna biru di atas tempat tidur, dan sebuah atasan katun berwarna putih.

Frans mengambil atasan itu dan menemukan sebuah pakaian dalam wanita di bawahnya. Ini sudah cukup. Diambilnya celana dalam itu, membuka resluiting celananya, dan mulai menggosok kemaluannya dengan itu. Jantungnya berdebar mengetahui bahwa menantu perempuannya sedang berada di kamar mandi di sebelahnya selagi dia sedang menggunakan celana dalamnya untuk 'sarana pelepasan' dirinya. Dipercepatnya gerakannya sambil mencoba membayangkan seperti apa Ester saat di atas tempat tidur, dan bagaimana rasanya mendapatkan Ester bergerak naik turun pada penisnya.

Frans hampir dekat dengan klimaksnya ketika dia mendengar suara dari kamar mandi berhenti. Dengan cepat Frans meletakkan pakaian itu ke tempatnya semula dan keluar dari kamar itu. Dia menutup pintunya, tapi masih membiarkannya sedikit terbuka. Baru saja dia keluar, Ester muncul dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang membungkus tubuhnya. Frans bisa langsung orgasme hanya dengan melihatnya dalam balutan handuk itu, lalu dia tahu dia akan mendapatkan yang lebih baik lagi.

Ester melepas handuknya, membiarkannya jatuh ke lantai, tidak mengetahui kalau mertuanya yang terangsang sedang mengintip tiap geraknya. Dia mendekat ke pintu, saat dia pertama kali melihatnya Frans memperoleh sebuah pemandangan yang sempurna dari pantat yang sangat indah itu. Kemudian Ester memutar tubuhnya yang semakin mempertunjukkan keindahannya. Vaginanya terlihat cantik sekali dihiasi sedikit rambut dan payudaranya kencang dan sempurna, seperti yang dibayangkan Frans. Dia mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, membuat payudaranya sedikit tergoncang dari sisi ke sisi. Frans menurunkan salah satu kopernya dan menggunakan tangannya untuk mulai mengocok penisnya lagi. Ester yang selesai mengeringkan rambutnya, mengambil celana dalamnya dan membungkuk ke depan untuk memakainya.

Saat melakukannya, Frans mendapatkan sebuah pemandangan yang jauh lebih baik dari pantatnya, dan dia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya, dia bisa langsung masuk ke dalam sana dan menyetubuhinya dari belakang. Lubang anusnya yang berwarna merah muda terlihat sangat mengundang ketika pikiran Frans membayangkan apa Ester mengijinkan putranya memasukkan penisnya ke dalam lubang itu. Ketika dia membungkuk untuk memakai jeansnya, gravitasi mulai berpengaruh pada payudaranya. Penglihatan ini mengirim Frans ke garis akhir, saat dia menembakkan spermanya ke seluruh celana dalamnya. Pelan-pelan Frans mengemasi baarang-barangnya dan dengan cepat memasuki kamarnya sendiri untuk berganti pakaian.

Sesudah makan malam, mereka berdua pergi ke ruang keluarga untuk bersantai.

"Kenapa tidak kita buka sebotol wine. Aku menyimpannya untuk malam ini buat Johan tapi karena sekarang dia tidak pulang sampai hari Senin, kita bisa membukanya", kata Ester sambil berjalan ke lemari es.
"Ide yang bagus", jawab Frans memperhatikan Ester membungkuk ke depan untuk mengambil botol wine.

Ketika Ester mengambil gelas di atas rak, atasan putihnya tersingkap ke atas, memberi sebuah pandangan yang bagus dari tubuhnya. Atasannya menjadikan payudaranya terlihat lebih besar dan jeansnya menjadi sangat ketat, memperlihatkan lekukan tubuhnya. Frans tidak bisa menahannya lagi. Dia harus bisa mendapatkannya. Sebuah rencana mulai tersusun dalam otak mesumnya.

Dua jam berbicara dan mulai mabuk saat alkohol mulai menunjukkan efeknya pada Ester. Dengan cepat topik pembicaraan mengarah pada pekerjaan dan bagaimana Ester sedang mengalami stress belakangan ini.

"Kenapa kamu tidak mendekat kemari dan aku akan memijatmu", tawar Frans.

Ester dengan malas berkata ya dan pelan-pelan mendekat pada Frans dan berbalik pada punggungnya lalu tangan Frans mulai bekerja pada bahunya.

"Oohh, ini sudah terasa agak baikan", dia merintih.

Frans tetap memijat bahunya ketika perasaan mendapatkan Ester mulai mengaliri tubuhnya, membuat penisnya mengeras. Mata Ester kini terpejam saat dia benar-benar mulai menikmati apa yang sedang dilakukan Frans pada bahunya. Pantatnya kini berada di atas penis Frans, membuat Frans ereksi penuh.

"Oohh, aku tidak bisa percaya bagaimana leganya perasaan ini, Papi sungguh baik".
"Ini keahlianku", jawab Frans saat dia pelan-pelan mulai menggosokkan penisnya ke pantat Ester.

Ester menyadari apa yang sedang terjadi. Dia tidak menghiraukan apa yang Frans lakukan dengan pijatannya yang mulai 'salah' itu. Dia sangat mencintai suaminya dan tidak pernah akan mengkhianati dia. Dan bayangan tidur dengan mertuanya sangat menjijikkannya. Dia meletakkan kedua tangannya pada kaki Frans saat mencoba untuk melepaskan dirinya dari penis Frans. Tapi dengan gerakan malasnya, hanya menyebabkannya menggerakkan pantatnya naik turun selagi dia menggunakan tangannya untuk menggosok paha Frans. Tahu-tahu dia merasa sangat bergairah, dan dia ingin Johan ada di sini agar dia bisa segera bercinta dengannya. Frans tahu bahwa dia telah mendapatkannya.

"Ini mulai terasa tidak nyaman untuk aku, kenapa kita tidak pergi saja ke atas", ajak Frans.
"Baiklah, aku belum merasa lega benar, tapi sebentar saja ya, sebab aku tidak mau membuat Papi lelah".

Ketika mereka memasuki kamar tidur, Frans memintanya untuk membuka atasannya agar dia bisa menggosokkan lotion ke punggungnya. Dia setuju melepasnya dan dia memperlihatkan bra putihnya yang menahan payudaranya yang sekal. Gairahnya terlihat dengan puting susunya yang mengeras yang dengan jelas terlihat dari bahan bra itu. Apa yang Ester kenakan sekarang hanya bra dan jeans ketatnya, yang hampir tidak muat di pinggangnya. Ester rebah pada perutnya ketika Frans menempatkan dirinya di atas pantatnya.

"Begini jadi lebih mudah untukku", kata Frans saat dia dengan cepat melepaskan kemejanya dan mulai untuk menggosok pinggang dan punggung Ester bagian bawah. Alkohol telah berefek penuh pada Ester ketika dia memejamkan matanya dan mulai jatuh tertidur.
"Oohh Johan", dia mulai merintih.

Frans tidak bisa mempercayainya. Di sinilah dia, setelah 5 tahun tanpa seks, di atas tubuh menantu perempuannya yang cantik dan masih muda dan yang dipikirnya dia adalah suaminya. Pelan-pelan dilepasnya celananya sendiri, dan membalikkan tubuh Ester. Frans pelan-pelan mencium perutnya yang rata saat dia mulai melepaskan jeans Ester dengan perlahan. Vagina Ester kini mulai basah saat dia bermimpi Johan menciumi tubuhnya.

Dengan hati-hati Frans melepas jeansnya dan mulai menjalankan ciumannya ke atas pahanya. Ketika dia mencapai celana dalam yang menutupi vaginanya, dia menghirup bau harumnya, dan kemudian sedikit menarik ke samping kain celana dalam yang kecil itu dan mencium bibir vagina merah mudanya. Vaginanya lebih basah dari apa yang pernah Frans bayangkan. Ester menggerakkan salah satu tangannya untuk membelai payudaranya sendiri, sedang tangan yang lainnya membelai rambut Frans.

"Oohh Johan", dia merintih ketika sekarang Frans menggunakan lidahnya untuk menyelidiki vaginanya. Penisnya akan meledak saat dia mulai menjalankan ciumannya ke atas tubuhnya.
"Jangan berhenti", bisik Ester.

Dia sekarang menggerakkan penisnya naik turun di gundukannya, merangsangnya. Hanya celana dalam putih kecil yang menghalanginya memasuki vaginanya. Frans lebih melebarkan paha Ester, dan kemudian mendorong celana dalam itu ke samping saat dia menempatkan ujung penisnya pada pintu masuknya. Pelan-pelan, di dorongnya masuk sedikit demi sedikit ketika Ester kembali mengeluarkan sebuah rintihan lembut.

Sudah sekian lama dia menantikan sebuah persetubuhan yang panas, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan 'memasuki' menantu perempuannya yang cantik. Dia menciumi lehernya saat menusukkan penisnya keluar masuk. Dia mulai meningkatkan kecepatannya, saat dia melepaskan branya. Frans mencengkeram kedua payudara itu dan menghisap puting susunya seperti bayi. Perasaan ini tiba-tiba membawa Ester kembali pada kenyataan saat dia membuka matanya. Dia tidak bisa percaya apa yang dia lihat. Mertuanya sedang berada di atas tubuhnya, mendorong keluar masuk ke vaginanya dengan gerakan yang mantap, dan yang paling buruk dari semua itu, dia membiarkannya terjadi begitu saja.

Frans melihat matanya terbuka, maka dia memegang kaki Ester dan meletakkannya di atas bahunya dengan jari kakinya yang menunjuk lurus ke atas. Kini dia menyetubuhinya untuk segala miliknya yang berharga.

"Oh tidak.. Hentikan.. Oh.. Tuhan.. Kita tidak boleh.. Tolong.. Oohh", Ester berteriak. Payudaranya terguncang seperti sebuah gempa bumi ketika Frans menyetubuhinya layaknya seekor binatang.
"Hentikan Pi.. Ini tidak benar.. Oohh Tuhan", Ester berteriak dengan pasrah.

Frans melambat, dia menunduk untuk mencium bibir Ester. Lutut Ester kini berada di sebelah kepalanya sendiri saat dia menemukan dirinya malah membalas ciuman Frans. Sesuatu telah mengambil alihnya. Lidah mereka kini mengembara di dalam mulut masing-masing ketika mereka saling memeluk dengan erat. Frans menambah lagi kecepatannya dan keluar masuk lebih cepat dari sebelumnya, Ester semakin menekan punggungnya. Frans berguling dan Ester kini berada di atas, 'menunggangi' penis Frans.

"Oh Tuhan, Papi merobekku", kata Ester ketika dia meningkat gerakannya.
"Kamu sangat rapat, aku bertaruh Johan pasti kesulitan mengerjai kamu", jawabnya.

Ini adalah vagina paling rapat yang pernah Frans 'kerjai' setelah dia mengambil keperawanan isterinya. Dia meraih ke atas dan memegang payudaranya, meremasnya bersamaan lalu menghisap puting susunya lagi.

"Tolong jangan keluar di dalam.. Oohh.. Papi tidak boleh keluar di dalam".

Ester kini menghempaskan Frans jadi gila. Mereka terus seperti ini sampai Frans merasa dia akan orgasme. Dia mulai menggosok beberapa cairan di lubang pantat Ester. Dia kemudian menyuruh Ester untuk berdiri pada lututnya saat dia bergerak ke belakangnya, dengan penisnya mengarah pada lubang pantatnya.

"Tidak, punya Papi terlalu besar, aku belum pernah melakukan ini, Tolong Pi jangan", Ester mengiba berusaha untuk lolos.
Tetapi itu tidak cukup untuk Frans. Sambil memegangi pinggulnya, dengan satu dorongan besar dia melesakkan semuanya ke dalam pantat Ester.
"Oohh Tuhan", Ester menjerit, dia mencengkeram ujung tempat tidur dengan kedua tangannya.

Frans mencabut pelan-pelan dan kemudian mendorong lagi dengan cepat. Payudaranya tergantung bebas, tergguncang ketika Frans mengayun dengan irama mantap.

"Oohh Papi bangs*t".
"Aku tahu kamu suka ini", jawab Frans, dia mempercepat gerakannya.

Ester tidak bisa percaya dia sedang menikmati sedang 'dikerjai' pantatnya oleh mertuanya.

"Lebih keras", Ester berteriak, Frans memegang payudaranya dan mulai menyetubuhinya sekeras yang dia mampu. Ditariknya bahu Ester ke atas mendekat dengannya dan menghisapi lehernya.
"Aku akan keluar", teriak Frans.
"Tunggu aku ", jawabnya.

Frans menggunakan salah satu tangannya untuk menggosok vaginanya, dan kemudian dia memasukkan dua jari dan mulai mengerjai vaginanya. Ester menjerit dengan perasaan nikmat sekarang saat dalam waktu yang bersamaan telepon berbunyi. Ester menjatuhkan kepalanya ke bantal ketika Frans mengangkat telepon, dengan satu tangan masih menggosok vaginanya.

"Halo.. Johan.. Ya dia menyambutku dengan sangat baik.. Ya aku akan memanggilnya, tunggu", katanya saat dia menutup gagang telepon supaya Johan tidak bisa dengar suara jeritan orgasme istrinya.

Dia bisa merasakan jarinya dilumuri cairan Ester. Dengan satu dorongan terakhir dia mulai menembakkan benihnya di dalam lubang pantat Ester. Semprotan demi semprotan menembak di dalam lubang pantat rapat Ester. Mereka berdua roboh ke tempat tidur, Frans di atas punggung Ester. Penisnya masih di dalam, satu tangan masih menggosok pelan vagina Ester yang terasa sakit, tangan yang lain meremas ringan payudaranya.

"Halo Johan", kata Ester mengangkat telepon.
"Tidak, kita belum banyak melakukan kegiatan.. Jangan cemaskan kami, hanya tolong usahakan pulang cepat.. Aku mencintaimu".

Dia menutup dan menjatuhkan telepon itu. Mereka berbaring di sana selama lima menitan, Frans masih di atas, nafas keduanya berangsur reda. Frans mencabut jarinya yang berlumuran sperma dan meletakkannya ke mulut Ester. Dia menghisapnya hingga kering, dan kemudian bangun.

"Aku pikir lebih baik Papi keluar", dia berkata dengan mata yang berkaca-kaca.

Dia berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi itu. Rambutnya berantakan. Frans bisa melihat cairannya yang pelan-pelan menetes turun di pantatnya, dan menurun ke pahanya.


E N D

Hubungan Terlarang

Ini adalah kisah pengalamanku yang sengaja aku beberkan untuk pertama kalinya. Sebut saja namaku Arman, aku sendiri tinggal di Bandung. Kejadian yang aku alami ini kalau tidak salah ingat, terjadi ketika aku akan lulus SMA pada tahun 1998. Sungguh sebelumnya aku tak menyangka bahwa aku akan meniduri adikku sendiri yang bernama Ratih. Dia termasuk anak yang rajin dan ulet, sebab dia adalah yang memasak dan mencuci pakaian sehari-hari. Ibuku adalah seorang pedagang kelontong di pasar, sedangkan ayahku telah lama meninggal. Entah mengapa Ibu tidak berniat untuk menikah lagi. Yang ibu lakukan setiap hari adalah sejak jam 4 subuh dia sudah pergi ke pasar dan pulang menjelang magrib, aku pun sekali-sekali pergi ke pasar untuk membantu beliau, itu pun kalau terpaksa sedang tidak punya uang. Sedangkan adikku karena seringnya tinggal di rumah maka dia kurang pergaulan hingga kuperhatikan tampaknya dia belum pernah pacaran. Oh ya, selisih umurku dengan adikku hanya terpaut dua setengah tahun dan saat itu dia masih duduk di kelas 1 SMA. ***** Baiklah, aku akan mulai menceritakan pengalaman seks dengan adikku ini. Kejadiannya ketika itu aku baru pulang dari rumah temanku Anto pada siang hari, ketika sampai di rumah aku mendapati adikku sedang asyik menonton serial telenovela di salah satu TV swasta. aku pun langsung membuat kopi, merokok sambil berbaring di sofa. Saat itu serial tersebut sedang menampilkan salah satu adegan ciuman yang hanya sebentar karena langsung terpotong oleh iklan. Setelah melihat adegan tersebut aku menoleh kepada adikku yang ternyata tersipu malu karena ketahuan telah melihat adegan tadi. "Pantesan betah nonton film gituan" ujarku. "Ih, apaan sih" cetusnya sambil tersipu malu-malu. Beberapa menit kemudian serial tersebut selesai jam tayangnya, dan adikku langsung pergi ke WC. Kudengar dari aktifitasnya, rupanya dia sedang mencuci piring. Karena acara di televisi tidak ada yang seru, maka aku pun mematikan TV tersebut dan setelah itu aku ke WC untuk buang air kecil. Mataku langsung tertuju pada belahan pantat adikku yang sedang berjongkok karena mencuci piring. "Ratih, ikut dulu sebentar pingin pipis nih" sahutku tak kuat menahan. Setelah aku selesai buang air kecil, pikiranku selalu terbayang pada bongkahan pantat adikku Ratih. Aku sendiri tadinya tak mau berbuat macam-macam karena kupikir dia adalah adikku sendiri, apalgi adikku ini orangnya lugu dan pendiam. Tetapi dasar setan telah menggoyahkan pikiranku, maka aku berpikir bagaimana caranya agar dapat mencumbu adikku ini. Aku seringkali mencuri pandang melihat adikku yang sedang mencuci, dan entah mengapa aku tak mengerti, aku langsung saja berjalan menghampiri adikku dan memeluk tubuhnya dari belakang sambil mencium tengkuknya. Mendapat serangan yang mendadak tersebut adikku hanya bisa menjerit terkejut dan berusaha melepaskan diri dari dekapanku. Aku sendiri lalu tersadar. Astaga, apa yang telah aku lakukan terhadap adikku. Aku malu dibuatnya, dan kulihat adikku sedang menangis sesenggukan dan lalu dia lari ke kamarnya. Melihat hal itu aku langsung mengejar ke kamarnya. Sebelum dia menutup pintu aku sudah berhasil ikut masuk dan mencoba untuk menjelaskan perihal peristiwa tadi. "Maafkan.. Aa Ratih, Aa tadi salah" "Terus terang, Aa nggak tahu kenapa bisa sampai begitu" Adikku hanya bisa menangis sambil telungkup di tempat tidurnya. Aku mendekati dia dan duduk di tepi ranjang. "Ratih, maafin Aa yah. Jangan dilaporin sama Ibu" kataku agak takut. "Aa jahat" jawab adikku sambil menangis. "Ratih maafin Aa. Aa berbuat demikian tadi karena Aa nggak sengaja lihat belahan pantat kamu, jadinya Aa nafsu, lagian kan Aa sudah seminggu ini putus ama Teh Dewi" kataku. "Apa hubungannya putus ama Teh Dewi dengan meluk Ratih" jawab adikku lagi. "Yah, Aa nggak kuat aja pingin bercumbu" "Kenapa sama Ratih" jawabnya. Setelah itu aku tidak bisa berbicara lagi hingga keadaan di kamar adikku begitu sunyi karena kami hanya terdiam. Dan rupanya di luar mulai terdengar gemericik air hujan. Di tengah kesunyian tersebut lalu aku mencoba untuk memecah keheningan itu. "Ratih, biarin atuh Aa meluk kamu, kan nggak akan ada yang lihat ini" Adikku tidak menjawab hanya bisa diam, mengetahui hal itu aku mencoba membalikkan tubuhnya dan kuajak bicara. "Ratih, lagian kan Ratih pingin ciuman kayak di film tadi kan?" bujukku. "Tapi Aa, kita kan adik kakak?" jawabnya. "Nggak apa-apa atuh Ratih, sekalian ini mah belajar, supaya entar kalo pacaran nggak canggung" Entah mengapa setelah aku bicara begitu dia jadi terdiam. Wah bisa nih, gumanku dalam hati hingga aku pun tak membuang kesempatan ini. Aku mencoba untuk ikut berbaring bersamanya dan mencoba untuk meraih pinggangnya. Aku harus melakukannya dengan perlahan. Belum sempat aku berpikir, Ratih lalu berkata.. "Aa, Ratih takut" "Takut kenapa, Say?" tanyaku. "Ih, meuni geuleh, panggil Say segala" katanya. "Hehehe, takut ama siapa? Ama Aa? Aa mah nggak bakalan gigit kok", rayuku. "Bukan takut ama Aa, tapi takut ketahuan Ibu" jawabnya. Setelah mendengar perkataannya, aku bukannya memberi alasan melainkan bibirku langsung mendarat di bibir ranum adikku yang satu ini. Mendapat perlakuanku seperti itu, tampak kulihat adikku terkejut sekali, karena baru pertama kalinya bibir yang seksi tanpa lipstick ini dicumbu oleh seorang laki-laki yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Adikku pun langsung mencoba untuk menggeserkan tubuhnya ke belakang. Tetapi aku mencoba untuk menarik dan mendekapkan lebih erat ke dalam pelukanku. "Mmhh, mmhh.., Aa udah dong" pintanya. Aku menghentikan pagutanku, dan kini kupandangi wajah adikku dan rasanya aku sangat puas meskipun aku hanya berhasil menikmati bibir adikku yang begitu merah dan tipis ini. "Ratih, makasih yah, kamu begitu pengertian ama Aa" kataku. "Kalau saja Ratih bukan adik Aa, udah akan Aa.." belum sempat aku habis bicara.. "Udah akan Aa apain" bisiknya sambil tersenyum. Aku semakin geregetan saja dibuatnya melihat wajah cantik dan polos adikku ini. "Udah akan Aa jadiin pacar atuh. Eh Ratih, Ratih mau kan jadi pacar Aa", tanyaku lagi. Mendengar hal demikian adikku lalu terdiam dan beberapa saat kemudian ia bicara.. "Tapi pacarannya nggak beneran kan" Katanya sedikit ragu. "Ya nggak atuh Say, kita pacarannya kalo di rumah aja dan ini rahasia kita berdua aja, jangan sampai temen kamu tau, apalagi sama Ibu" jawabku meyakinkannya. Setelah itu kulihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukan jam 4 sore. "Udah jam 4 tuh, sebentar lagi Ibu pulang. Aa mandi dulu yah", kataku kemudian. Maka aku pun bangkit dan segera pergi meninggalkan kamar adikku. Setelah kejadian tadi siang aku sempat tidak habis pikir, apakah benar yang aku alami tadi. Di tengah lamunanku, aku dikejutkan oleh suara Ibuku. "Hayoo ngelamun aja, Ratih mana udah pada makan belum?" kata Ibuku. "Ada tuh, emang bawa apaan tuh Bu?" aku melihat Ibuku membawa bungkusan. Setelah aku lihat ternyata Ibu membeli bakso, kemudian Ibuku memangil Ratih dan kami bersama-sama menyantap Baso itu. Untungnya setelah kejadian tadi siang kami dapat bersikap wajar, seolah tidak terjadi apa-apa sehingga Ibuku tidak curiga sedikit pun. Malamnya aku sempat termenung di kamar dan mulai merencanakan sesuatu, nanti subuh setelah Ibu pergi ke pasar aku ingin sekali mengulangi percumbuan dengan adikku sekalian ingin tidur sambil mendekap tubuh adikku yang montok. Keesokannya rupanya setan telah menguasaiku sehingga aku terbangun ketika Ibu berpamitan kepada adikku sambil menyuruhnya untuk mengunci pintu depan. Setelah itu aku mendekati adikku yang akan bergegas masuk kamar kembali. "Ehmm, ehmm, bebas nih", ujarku. Adikku orangnya tidak banyak bicara. Mengetahui keberadaanku dia seolah tahu apa yang ingin aku lakukan, tetapi dia tidak bicara sepatah kata pun. Karena aku sudah tidak kuat lagi menahan nafsu, maka aku langsung melabrak adikku, memeluk tubuh adikku yang sedang membelakangiku. Kali ini dia diam saja sewaktu aku memeluk dan menciumi tengkuknya. Dinginnya udara subuh itu tak terasa lagi karena kehangatan tubuh adikku telah mengalahkan hawa dingin kamar ini. kont*lku yang mulai ngaceng aku gesek-gesekkan tepat di bongkahan pantatnya. "Say, Aa pingin bobo di sini boleh kan?" pintaku. "Idih, Aa genit ah, jangan Aa, entar.." "Entar kenapa?" timpalku. Belum sempat dia bicara lagi, aku langsung membalikkan tubuhnya dan langsung aku pagut bibir yang telah sejak tadi siang membuat pikiranku melayang. Aku kemudian langsung mendorongnya ke arah dinding dan menghimpit hangat tubuhnya agar melekat erat dengan tubuhku. Aku mencoba untuk menyingkap dasternya dan kucoba untuk meraba paha dan pantatnya. Walaupun dia menyambut ciumanku, tetapi tangannya berusaha untuk mencegah apa yang sedang kulakukan. Tetapi aku tersadar bahwa ciumannya kali ini lain daripada yang tadi siang, ciuman ini terasa lebih hot dan mengairahkan karena kurasakan adikku kini pun menikmatinya dan mencoba menggerakkan lidahnya untuk menari dengan lidahku. Aku tertegun karena ternyata diam-diam adikku juga memiliki nafsu yang begitu besar, atau mungkin juga ini karena selama ini adikku belum pernah merasakan nikmatnya bercumbu dengan lawan jenis. Kini tanpa ragu lagi aku mulai mencoba untuk menyelinapkan tanganku untuk kembali meraba pahanya hingga tubuhku terasa berdebar-debar dan denyut nadiku terasa sangat cepat, karena ini adalah untuk pertama kalinya aku meraba paha perempuan. Sebelumnya dengan pacarku aku belum pernah melakukan ini, karena Dewi pacarku lebih sering memakai celana jeans. Dengan Dewi kami hanya sebatas berciuman. Kini yang ada dalam pikiranku hanyalah satu, yaitu aku ingin sekali meraba, menikmati yang namanya heunceut (vagina dalam bahasa Sunda) wanita hingga aku mulai mengarahkan jemariku untuk menyelinap di antara sisi-sisi celana dalamnya. Belum juga sempat menyelipkan jariku di antara heunceutnya, Ratih melepaskan pagutannya dan mulutnya seperti ikan mas koki yang megap-megap dan memeluk erat tubuhku kemudian menyilangkan kedua kakinya di antara pantatku sambil menekan-nekan pinggulnya dengan kuat. Ternyata Ratih telah mengalami orgasme. "Aa.. aah, eghh, eghh" rintih Ratih yang dibarengi dengan hentakan pinggulnya. Sesaat setelah itu Ratih menjatuhkan kepalanya di atas bahuku. Aku belai rambutnya karena aku pun sangat menyayanginya, kemudian aku bopong tubuh yang telah lunglai ini ke atas tempat tidur dan kukecup keningnya. "Gimana Sayang, enak?" bisikku. Aku hanya bisa melihat wajah memerah adikku ini yang malu dan tersipu, selintas kulihat wajah adikku ini manisnya seperti Nafa Urbach. "Gimana rasanya, Sayang?" tanyaku lagi. "Aa, yang tadi itu apa yang namanya orgasme?" Eh, malah ganti bertanya adikku tersayang ini. "Iya Sayang, gimana, enak?" jawabku sambil bertanya lagi. "He-eh, enakk banget" jawabnya sambil tersipu. Entah mengapa demi melihat kebahagian di wajahnya, aku kini hanya ingin memandangi wajahnya dan tidak terpikir lagi untuk melanjutkan aksiku untuk mengarungi lembah belukar yang terdapat di kemaluannya hingga sesaat kemudian karena kulihat matanya yang mulai sayu dan mengantuk akibat orgasme tadi maka aku mengajaknya untuk tidur. Kami pun terus tertidur dengan posisi saling berpelukan dan kakiku kusilangkan di antara kedua pahanya. Hangat tubuh adikku kurasakan begitu nikmat sekali. Yang ada dalam pikiranku adalah betapa nikmatnya jika aku menikah nanti, pantas saja di jaman sekarang banyak yang kimpoi entah itu sudah resmi atau belum. Tanpa terasa aku pun sadar dan terbangun dari tidurku, dan kulihat jam di kamar adikku telah menunjukkan jam 9 lewat dan adikku belum juga bangun dari tidurnya. Wah gawat, berarti dia hari ini tidak sekolah, pikirku. "Ratih, bangun kamu nggak sekolah?" tanyaku membangunkannya. Ratih pun mulai terbangun dan matanya langsung tertuju pada jam dinding. Dia terkejut karena waktu telah berlalu begitu cepat, sehingga dia sadar bahwa hari ini dia tidak mungkin lagi pergi ke sekolah. "Aahh, Aa jahat kenapa nggak ngebangunin Ratih" rajuknya manja. "Gimana mau ngebangunin, Aa juga baru bangun" kataku membela diri. "Gimana dong kalo Ibu tahu, Ratih bisa dimarahin nih, ini semua gara-gara Aa" "Loo kok Aa yang disalahin sih, lagian Ibu nggak bakalan tahu kalau Aa nggak ngomongin kan" jawabku untuk menghiburnya. "Bener yah, Ratih jangan dibilangin kalau hari ini bolos" "Iyaa, iyaa" jawabku. Entah mengapa tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk mandi bareng. Wah ini kesempatan emas, alasan tidak memberitahu Ibu bahwa dia nggak masuk sekolah bisa kujadikan senjata agar aku bisa mandi bersama adikku. "Eh, ada tapinya loh, Aa nggak bakalan bilang ama Ibu asal Ratih mau mandi bareng ama Aa" kataku sambil mengedipkan mata. "Nggak mau. Aa jahat, lagian udah gede kan malu masak mau mandi aja musti barengan" "Ya udah kalo nggak mau sih terserah" ancamku. Singkat cerita karena aku paksa dan dia tidak ingin ketahuan oleh Ibu maka adikku menyetujuinya. "Tapi Aa jangan macem-macem yah" pintanya. "Emangnya kalo macem-macem gimana?" tanyaku. "Pokoknya nggak mau, mendingan biarin ketahuan Ibu, lagian juga itu kan gara-gara Aa, Ratih bilangin Aa udah ciumin Ratih" balasnya mengancam balik. Jika kupikir-pikir ternyata benar juga, bisa berabe urusannya, seorang kakak bukannya menjaga adik dari ulah nakal laki-laki lain, eh malah kakaknya sendiri yang nakal. Maka untuk melancarkan keinginanku untuk bisa mandi dengannya, aku pun menyetujuinya. Kami berdua akhirnya bangun dari tidur dan setelah berbenah kamar, kami berdua pun pergi menuju kamar mandi. Sesampai di kamar mandi kami hanya saling diam dan kulihat adikku agak ragu untuk melepaskan pakaiannya. "Aa balik dulu ke belakang, Ratih malu nih" pintanya. "Apa nggak sebaiknya Aa yang bukain punya Ratih, dan Ratih bukain punya Aa" Tanpa pikir panjang aku menghampiri adikku dan aku cium bibirnya. Agar dia tidak malu dan canggung untuk membuka pakaiannya, aku genggam tangannya dan aku tuntun untuk membuka bajuku. Tanpa dikomando dia membuka bajuku setelah itu kutuntun lagi untuk membuka celana basket yang aku kenakan. Setelah keadaanku bugil dan hanya memakai celana dalam saja kulihat adikku tegang, sesekali dia melirik ke arah selangkanganku dimana kont*lku sudah dalam keadaan siaga satu. Kini giliranku menanggalkan daster yang ia kenakan. Begitu aku buka, aku terbeliak dibuatnya karena ternyata tubuh adikku begitu bohai (body aduhai). Dia lalu berusaha menutupi selangkangannya. Lalu dengan sengaja kucolek payudaranya hingga adikku melotot dan menutupinya. Kemudian aku pun balik mencolek mem*knya, hehehe.. "Idihh, Aa nggak jadi ah mandinya, malu", rajuknya. Adikku lalu mengambil handuk dan melilitkan handuk tersebut kemudian melangkah keluar kamar mandi, tetapi karena aku tidak mau kesempatan emas ini kabur maka aku pegang tangannya dan terus aku peluk sambil kukecup bibirnya, karena ternyata adikku sangat merasa nyaman bila bibirnya aku cium. Aku lalu menarik handuknya hingga terlepas dan jatuh ke lantai, dan aku pepet tubuhnya ke arah bak air lalu gayung kuambil dan langsung kusiramkan ke tubuh kami berdua. Merasakan tubuhnya telah basah oleh siraman air, adikku berusaha untuk melepaskan ciuman dan desakan yang aku lakukan, tapi usahanya sia-sia karena aku semakin bernafsu menyirami tubuh kami sambil kont*lku aku tekan-tekan ke arah selangkangannya. Setelah tubuh kami benar-benar basah, aku bagai kemasukan setan. Selain menyedot bibirnya dengan ganas aku pun langsung mencoba untuk melepaskan celananya. Setelah celana dalamnya terlepas dari sarangnya hingga ke tepi lutut, aku pun menariknya ke bawah dengan kakiku hingga benar-benar terlepas. Sadar bahwa aku akan berbuat nekat, Ratih semakin berusaha untuk melepaskan tubuhnya. Sebelum usahanya membuahkan hasil aku melepas pagutannya. "Aa, stop please" rengeknya sambil menangis. "Ratih, tolong Aa dong. Ratih tadi subuh kan udah ngalami orgasme, Aa belum.." pintaku. Dan tanpa menunggu waktu lagi di saat tenaganya melemah, aku kangkangkan pahanya sambil kukecup bibirnya kembali sehingga dia tidak bisa menolaknya. Di saat itu aku meraih burungku dari CD-ku dan mencoba mencari sarang yang sudah lama ini ingin kurasakan. Dalam sekejap kont*lku sudah berada tepat di celah pintu heunceut adikku, dan siap untuk segera menjebol keperawanannya. Merasa telah tepat sasaran maka aku pun menghentakkan pinggulku. Dan aku seperti benar-benar merasakan sesuatu yang baru dan nikmat melanda seluruh organ tubuhku dan kudengar adikku meringis kesakitan tapi tidak berusaha untuk menjerit. Melihat hal itu aku mencoba untuk mengontrol diriku dan mencoba menenangkan perasaan yang membuatku semakin tak karuan, karena aku merasa diriku dalam keadaan kacau tetapi nikmat hingga sulit untuk diuraikan dengan kata-kata. Aku mencoba hanya membenamkan penisku untuk beberapa saat, karena aku tak kuasa melihat penderitaan yang adikku rasakan. Kini pandangan aku alihkan pada kedua payudara adikku yang masih diselimuti BH-nya. Aku mencoba untuk melepaskannya tapi mendapat kesulitan karena belum pernah sekalipun aku membukanya hingga aku hanya bisa menarik BH yang menutupi payudara adikku dengan menariknya ke atas dan tiba-tiba dua bongkah surabi daging yang kenyal menyembul setelah BH itu aku tarik. Melihat keindahan payudara adikku yang mengkal dan putingnya yang bersemu coklat kemerahan, aku pun tak kuasa untuk segera menjilat dan menyedotnya senikmat mungkin. "Aa, ahh, sakit" rintih adikku. Seiring dengan kumainkannya kedua buah payudara adikku silih berganti maka kini aku pun mencoba untuk menggerakkan pinggulku maju mundur, walau aku juga merasakan perih karena begitu sempitnya lubang heunceut adikku ini. Badan kami kini bergumul satu sama lain dan kini adikku pun mulai menikmati apa yang aku lakukan. Itu dapat aku lihat karena kini adikku tidak lagi meringis tetapi dia hanya mengeluarkan suara mendesah. "Eenngghh, acchh, enngg, aacchh" "Gimana, enakk?" aku mencoba memastikan perasaan adikku. Dia tidak menjawab bahkan kini justru tangannya meraih kepalaku dan memapahnya kembali mencium mulutnya. Karena aku tidak ingin egois maka aku pun menuruti kehendaknya. Aku kulum bibirnya dan lidah kami pun ikut berpelukan menikmati sensasi yang tiada tara ini. Tanganku kugunakan untuk meremas payudaranya. Gila, kenikmatan ini sungguh luar biasa, kini aku pun mencoba untuk menirukan gaya-gaya di film BF yang pernah kulihat. Adikku kuminta menungging dan tangannya memegang bak mandi. Aku berbalik arah dan mencoba untuk segera memasukan kembali kont*lku ke dalam mem*knya, belum sempat niat ini terlaksana aku segera mengurungkan niatku, karena kini aku dapat melihat dengan jelas bahwa heunceut adikku merekah merah dan sangat indah. Karena gemas aku pun lalu berjongkok dan mencoba mengamati bentuk heunceut adikku ini hingga aku melongo dibuatnya. Mengetahui aku sampai melongo karena melihat keindahan heunceutnya, adikku berlagak sedikit genit, dia goyangkan pantatnya bak penyanyi dangdut sambil terkikik cengengesan. Merasa dikerjai oleh adikku dan juga karena malu, untuk mebalasnya aku langsung saja membenamkan wajahku dan kuciumi heunceut adikku ini, hingga kembali dia hanya bisa mendesah.. "Aahh, Aa mau ngapain.., ochh, enngghh" desahnya sambil mengambil nafas panjang. Mmhh, ssrruupp, cupp, ceepp, suara mulutku menyedot dan menjilati heunceut adikku ini, dan aku perhatikan ada bagian dari heunceut adikku ini yang aneh, mirip kacang mungkin ini yang namanya itil, maka aku pun mencoba untuk memainkan lidahku di sekitar benda tersebut. "Acchh, Aa, nnggeehh, iihh, uuhh, gelii", erangnya saat aku memainkan itilnya tersebut. Karena mendengar erangannya yang menggoda aku pun tak kuasa menahannya dan segera bangkit untuk memeluk adikku dan memasukannya kembali dengan cepat kont*lku agar bersemayam pada heunceut adikku ini. Baru beberapa kocokan kont*lku di mem*knya, adikku seakan blingsatan menikmati kenikmatan ini hingga dia pun meracau tak karuan lalu.. "Aa, Ratihh, eenngghh, aahh.." Rupanya adikku baru saja mengalami orgasme yang hebat karena aku rasakan di dalam mem*knya seperti banjir bandang karena ada semburan lava hangat yang datang secara tiba-tiba. Kini aku merasakan kenikmatan yang lain karena cairan tersebut bagai pelumas yang mempermudah kocokanku dalam heunceutnya. Setelah itu adikku kini lunglai tak bertenaga, yang ia rasakan hanya menikmati sisa-sisa dari orgasmenya dan seperti pasrah membiarkan tubuhnya aku entot terus dari belakang. Mengetahui hal itu aku pun kini mengerayangi setiap lekuk tubuh adikku sambil terus mengent*tnya, mulai dari mencium rambutnya, menggarap payudaranya sampai-sampai aku seperti merasakan ada yang lain dari tubuhku, ada perasaan seperti kont*lku ini ingin pipis tapi tubuh ini terasa sangat-sangat nikmat. "Aa, udah.. Aa, Ratih udah lemess.." kata adikku. "Tunggu Sayangg, Aa maauu nyampai nih, oohh" Kurasakan seluruh tubuhku bagai tersengat listrik dan sesuatu cairan yang cukup kental aku rasakan menyembur dengan cepat mengisi rahim adikku ini. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang luar biasa ini aku memegang pantat adikku dan aku hentakkan pinggulku dengan keras membantu kont*lku untuk mencapai rongga rahim adikku lebih dalam. Kami berdua kini hanya bisa bernafas seperti orang yang baru saja berlari-lari mengejar bis kota. Setelah persetubuhan yang terlarang ini kami pun akhirnya mandi, dan setelah itu karena tubuhku lemas maka aku tiduran di sofa sambil menikmati acara televisi dan adikku kulihat kembali melakukan aktifitasnya membereskan rumah meskipun tubuhnya jauh lebih lemas.

Anakku Iparku

Anakku Iparku
Apakah dengan menceritakan aib ini dapat meringankan beban yang selama ini kuemban? entahlah, mungkin di antara pembaca ada yang pernah mengalami kisah yang pernah aku jalani. Aku hanya ingin berbagi bahwa anda tidak sendirian atau satu-satunya yang memperoleh pengalaman itu, atau justeru aku lah yang sendirian?

This is The Story. Saat itu aku, seorang wanita berumur 24 tahun, baru saja melepas masa lajangku dalam mahligai pernikahan bersama seorang pria pujaan hatiku dan amat kucintai. Mas Hadi namanya, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta . Kebahagiaan selalu menghias hari-hari kami meskipun kami masih menumpang di rumah ayah Mas hadi, seorang duda mantan lurah berumur 65 tahun dan sepasang kakinya telah lumpuh karena penyakit darah tinggi. Selama ini mas Hadi lah yang merawat ayah mertuaku karena anak-anaknya yang lain hidup di perantauan. Mulai dari memandikan, mengantar berobat dan lain-lain. Ayah mertua menolak dirawat pembantu yang sempat di bawa mas Hadi dengan alasan lebih comfort jika dirawat anak sendiri. Untungnya mas Hadi adalah tipe anak berbakti dimana hal itu pula yang semakin menambahkan kekagumanku padanya. Sayangnya kebahagiaan kami terasa belum lengkap karena kami belum dikaruniai anak.

Sudah hampir 2 tahun kami berupaya dengan berbagai macam cara untuk dapat menghasilkan keturunan. Mulai dari mengikuti saran tetangga, minum ramuan tradisional, orang pintar, dukun, sampai pengobatan medis modern. Namun sejauh ini belum mendapatkan kemajuan berarti, sampai suatu ketika dokter langgananku memanggilku khusus aku sendiri yang harus datang. Bagaikan di sambar petir dan dadaku di timpa gunung ketika pak dokter menyampaikan bahwa suamiku tercinta divonis tidak akan mampu menghasilkan keturunan alias mandul, dan mengharapkan aku sendiri yang harus menyampaikan kenyataan itu padanya. Hatiku miris dan bingung, tak mungkin hal itu kulakukan, aku begitu amat mencintai suamiku dan hal itu pasti akan sangat melukainya, bagaimana jika dia depresi, bagaimana jika ia meninggalkanku, segala macam kemungkinan buruk melintas dalam pikiranku.Namun selama berbulan-bulan berikutnya aku mampu menjaga sikapku di hadapan suami hingga tidak menimbulkan kecurigaan. Apakah aku harus berselingkuh?bagaimana jika rupa anakku nanti tidak sama dengan suamiku? Sampai suatu hari, ditengah keputus asaanku timbul ide gila yang menurutku saat itu adalah solusi terbaik.

Malam itu, usai kami berhubungan intim dan melihat suamiku terlelap, aku beranjak dari tempat tidur dan perlahan-lahan keluar dari kamar tidur menuju satu tempat : kamar ayah mertuaku. Perlahan pintu kamar ayah kubuka dan di temaram cahaya kulihat ayah mertua tengah tertidur pulas dengan suara mendengkur.Dengan mengendap aku mendekati ranjang ayah yang saat itu,seperti biasanya memakai oblong dan sarung. Perlahan tanganku menyingkap sarung ayah sampai kepangkal paha sehingga dengan jelas terlihat kemaluannya yang terkulai layu namun cukup besar. Dengan lembut tanganku mengusap-usapnya dan kini mulai bereaksi degna semakin memanjang, agak sedikit terkejut bathinku menyaksikan ternyata penis mertuaku lebih besar dari milik suamiku. Suara dengkuran mertuaku berhenti dan kini hanya tarikan nafas tenang yang terdengar meskipun aku yakin ia masih tertidur. Tanganku masih mengelus-elus batang kemaluannya tetapi belum menegang sempurna, hingga aku putuskan untuk menggunakan mulutku untuk merangsangnya seperti adegan film bf yang pernah kusaksikan. Kepalaku segera menunduk, kucium aroma khas kelelakian ayah mertuaku, lalu lidahku mulai menjilatinya hingga daging panjang itu berkilat-kilat tertimpa cahaya redup lampu kamar. Kemudian , hap...., separuh batang tongkol itu tenggelam dalam kuluman mulutku sambil tanganku mengocok-ngocoknya lembut. Nafas mertuaku kini mendengus-dengus dan mulutnya menceracau, agaknya ia menggigau, pikirku. Aku terus mengulum,menghisap dan mengunyah lembut alat kejantanan mertuaku hingga kurasakan sudah amat keras tanda ereksi yang sempurna. Inilah saatnya, pikirku, namun tiba-tiba ayah mertuaku terbangun dan dengan suara parau berkata " Diah, apa yang kamu lakukan nak?aku ini ayah mertuamu bagaimana jika....!tanganku segera membekap mulut ayah mertuaku, dengan terisak aku berkata.."ayah,mas Hadi sudah divonis mandul, aku tidak ingin memberitahukannya, aku kasihan mas Hadi, dan aku mengharapkan bantuan ayah dalam hal ini..."kepalaku terkulai di dada ayah mertuaku namun satu tanganku masih menggenggam dan mengocok batang penis ayah mertua. "....ahhh, Diah...tapi...ssshh...sudahlah, lakukanlah...tapi untuk sekali dan terakhir...ayah juga sudah lama tak merasakan tubuh wanita sejak ibunya Hadi meninggal", ujar mertuaku sambil membelai rambutku lembut. "Terima kasih...ayah" kataku seraya beranjak naik ke atas tempat tidur ayah mertua lalu merangkak di atas tubuhnya. Dengan berlutut tepat di atas selangkangannya aku loloskan gauun tidurku di mana aku tidak menggunakan sesuatupun di baliknya. Mata ayah mertua membelalak kagum dan penuh hasrat melihat kemolekan tubuh telanjangku yang dibalut kulit kuning langsat itu, matanya terpaku pada sepasang payudara ranum milikku yang cukup besar. Manakala aku sedikit menunduk di atas dadanya untuk memudahkan penetrasi rudalnya kedalam vaginaku tangannya langsung menangkap buah dadaku dan meremas-remasnya dengan gemas sehingga aku merasa ...

...sedikit kesakitan,"...pelan..pelan dong yah, sakit", ujarku lirih. Sejujurnya aku sama sekali tidak begitu nafsu melihat tubuh mertuaku yang sudah banyak keriput dan sedikit timbunan lemak di sana sini, apalagi jika mengingat suamiku, maka kucoba membayangkan aku tengah bersetubuh dengan suamiku sendiri. Ayah mertua kebetulan juga sangat mirip dengan mas Hadi.

Penetrasi itu gagal berkali-kali, apakah karena kemaluan ayah yang terlalu besar atau karena aku yang belum terangsang sehingga memiawku masih kering?!. Entahlah, karena kulakukan ini bukan untuk bersenang-senang tapi untuk membahagiakan mas Hadi dengan memberikan keturunan meski dengan cara yang salah.Kuludahi batang tongkol ayah namun belum mampu juga menembus vaginaku. Kemudian ku lepas tangan ayah yang tengah merermas-remas payudaraku lalu aku merangkak ke depan kemudian berlutut tepat di atas wajah mertuaku, dengan perlahan kuturunkan selangkanganku sehingga menyentuh hidung dan mulut mertuaku.."ayah..jilat", pintaku pada ayah mertua. Dengan penuh nafsu lidah mertuaku mengusap-ngusap menjilati mount veneris, labia mayora dan minora serta clitorisku. Tangannya pun ikut membantu dengan menekan dan menggaruk-garuk pelan klentitku, sesekali ia hujamkan jarinya ke lubang senggamaku, sementara tangannya yang lain menekan-nekan mencoba menembus lubang anusku. Saat itu pula hasratku berdesir mengaliri setiap pembuluh darahku, tanpa terasa aku mulai mendesah-desah dan kurasakan vaginaku mulai membengkak dan memproduksi cairan pelicin yang dengan rakus dihisap-hisap oleh mertuaku. " Ayah,..cukup", ujarku dengan suara bergetar. Lalu beringsut mundur ke posisi semula. Ku genggam batang kemaluan ayahku untuk kuarahkan tepat di mulut liang senggamaku lalu perlahan tapi pasti tongkat daging keras itu tertelan dalam vaginaku,"sshhh...ayaahhh", aku mendesah merasakan rangsangan yang amat hebat di tengah-tengah antara dua pangkal pahaku.Pantatku segera mengayun ke atas-bawah, ke samping kanan-kiri. "Ohhhhss...Diah mantuku..hhhh", desah mertuaku yang tangannya dengan trampil meremas-remas payudaraku yang montok. Sesekali kudekatkan di wajahnya sehingga ia bisa menghisap putingnya dengan rakus, menyebabkanku menggerinyit menahan sakit karena ayah nyaris menggigitnya. "ayahhh...kalo mau keluar..... bilang ya? kataku sambil terus berkelojotan di atas tubuhnya.Dan semenit kemudian ayah memberikan isyarat bahwa ia akan orgasme,"diah..aku sudah tidak tahan..uuhhhg", erang mertua nyaris berteriak jika saja tak keburu kubekap mulutnya. Dengan segera tubuhku rebah di atas dadanya, kurangkul erat lalu dengan sekuat tenaga aku berguling membawa tubuh ayah mertuaku yang telah lumpuh itu sehingga kini posisi tubuhnya berada di atas tubuhku. Dengan segera kurangkul pantatnya dengan kedua kakiku, menariknya kebawah sehingga kurasakan ujung tongkolnya menyentuh mulut rahimku dan sedetik kemudian tubuh mertuaku menegang seiring dengan semprotan-semprotan kuat cairan hangat dalam rahimku..crot...crot...crot...crot, banyak sekali sampai semenit semprotan sperma itu dengan deras keluar dari ujung penis mertuaku. Maklum hampir 10 tahun tidak pernah berhubungan sex dengan lawan jenis. Lama tubuhnya terkulai lemas di atas tubuhku yang basah kuyub oleh keringat. Dengan pelan kudorong tubuh mertua kesamping. Nafasnya masih ngos-ngosan dan matanya menerawang. Aku sendiri cukup lama berbaring telentang di sampingnya, kakiku kutumpangkan di atas sandaran ranjang, berharap spermanya tidak tumpah keluar dan berharap pembuahan segera terjadi. 1 jam kemudian aku bangkit di mana mertuaku sudah kembali mendengkur kelelahan namun dengan wajah bahagia. Sarungnya masih tersingkap dan kemaluanya masih berselemotan sperma. Kurapikan pakaianya dan segera kupakai kembali gaun tidurku, kukecup kening ayah mertuaku lalu berjalan meninggalkan kamarnya dengan salah satu tangan mendekap memiawku takut kalau cairan sperma ayah mertuaku segera tumpah. Kemudian kembali aku menyelinap ke balik selimut di sisi suamiku yang masih terbawa mimpi.

Esoknya hari berjalan seperti biasa. Hanya ada sedikit perubahan pada sikap mertuaku yang tadinya cenderung murung kini agak lebih rileks. Walau terkadang tatapan matanya kepada suamiku menyiratkan suatu beban tapi its oke. Sebagai manusia normal hal itu ku anggap wajar, manusia mana sih yang tidak merasa berdosa karena menyelingkuhi menantunya kendati dalam masalah ini akulah yang memulai. Tetapi ayah memang memegang janji, bahwa peristiwa malam itu adalah pertama dan terakhir, meskipun matanya kadang memandang nakal kepadaku. Demikian pula halnya denganku yang hanya menginginkan timbulnya kehidupan di dalam rahimku. Namun aku harus menghadapi kenyataan pahit manakala harapanku tidak tercapai. 2 minggu kemudian aku mengalami haid. Aku sedemikian panik hingga nyaris depresi meskipun aku mampu menyembunyikannya di depan suamiku. Mertua ku pun tidak mengetahui hal ini. Sampai suatu ketika menjelang suamiku berangkat ke kantornya aku berkata, "mas, ayahmu kan berarti ayahku juga, bagaimana bila besok pagi aku saja yang mandikan ayah, mas sorenya, aku kasihan melihat mas pulang malam, bangun pagi-pagi mempersiapkan kerjaan harus dibebani ...

...pula ngurusi ayah"."Diah, itukan memang sudah kewajibanku sebagai anak, emangnya kamu gak risih dan malu?tanya suamiku. "Ngga mas, kan tadi sudah kubilang kalau..." sssst..!, desis suamiku memotong ucapanku,"oke kalau memang itu maumu nanti aku bilang sama ayah, kamu memang istri ideal, sayang suami dan sayang mertua, cup"katanya seraya mengecup pipiku lalu segera pamit.

Keesokan harinya ketika suamiku sudah berangkat, kudekati ayah yang sedang membaca koran di atas kursi rodanya di halaman belakang rumah." Ayah,...waktunya mandi", ujarku lirih seraya meletakan koran ayah dan mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi yang cukup besar dan telah disiapkan kursi khusus untuk mandi ayah. Setibanya di sana aku segera memapah dan mendudukan ayah lalu melepaskan kaus oblong dan sarungnya sehingga kini telanjang. Dengan rikuh ia memandangiku, sementara aku mulai menyiraminya dan menyabuninya. Sengaja agak lama kusabuni kemaluannya sehingga lambat laun berdiri tegang, tiba-tiba ayah mertua memegang tanganku yang masih mengusap-usap alat kejantanannya,"ada apa nduk?", tanyanya lembut. "Ayah,...hampir dua minggu yang lalu aku mens,...dengan kata lain...benih ayah tidak berhasil membuatku hamil", jawabku dengan suara bergetar nyaris terisak. Lama ayah mertuaku tercenung sampai akhirnya ia berkata,"baiklah, mungkin perlu kesempatan kedua, tapi Diah,...setelah ini ayah tidak sanggup lagi, orangtua yang tinggal matinya seperti ayah ini mestinya tidak lagi berbuat dosa, kamu mengerti kan?" katanya lembut. Aku mengangguk. Lalu kembali melanjutkan memandikan ayah mertuaku dan setelah usai segera melap tubuhnya dengan handuk. Aku berjalan mendekati pintu kamar mandi dimana kapstok tergantung, lalu mulai melepaskan pakaianku satu per satu di hadapan mertuaku yang menatapku dengan tajamnya. Kerongkongannya naik turun seiring dengusan nafasnya yang terbakar nafsu. Kudekati tubuhnya lalu dengan berlutut kutundukan kepalaku di pangkuannya dan sekali lagi batang tongkol mertuaku kembali berada dalam kekuasaan mulutku. Haru aroma sabun membuatku semakin bergairah untuk menjilat, mengulum dan menghisap-hisap penis tegang mertuaku sampai kuarasakan cairan asin mulai keluar dari ujungnya.Mertuaku dengan mengerang-erang menggerumusi rambutku dan meremas-remas payu daraku."Diahh.....cepat lakukan, oohhh", perintahnya sambil mengerang, aku berdiri,"tapi ayahh, aku belum basah", jawabku sambil mendekati tubuhnya sehingga ujung payudaraku menyentuh wajahnya.Mulutnya segera menelan puting buah dadaku lalu mengunyah-ngunyahnya dengan buas sehingga kembali aku meringis menahan sedikit rasa sakit dan geli.Tangannya menggaruk-garuk klitorisku sementara tangannya yang lain dari belakang pantatku menerobos lubang memiawku dan menekan-nekan lubang duburku. Tubuhku bergetar tanda hawa nafsu telah bergejolak dalam setiap simpul urat syarafku kendati wajah suamiku lah yang selalu kubayangkan.Tiba-tiba tangan mertuaku melepaskan eksplorasinya dari area sekitar selangkanganku,selintas kulirik tangan itu menggapai potongan sabun yang ada di dekatnya, mengusap-usapnya hingga timbul busa, dan,"ahhhh...ayahhh", aku terkejut menahan sakit dan nikmat sekaligus manakala satu jari ayah mertua berhasil tertanam dalam lubang anusku sementara satu jari lainnya menghujam lubang kenikmatanku. Dengan segera ia memasuk-keluarkan jemarinya di dalam dua rongga tubuhku sekaligus, dan yang aku rasakan adalah kenikmatan luar biasa. Vaginaku segera menghasilkan cairan pelumas yang cukup banyak sehingga gerakan jari-jari mertuaku menimbulkan suara berkecipak.dan sepuluh detik kemudian ledakan-ledakan nikmat mendera lubang senggamaku.. "ayahhh...auh..auhhh.."teriakku seiring orgasme dahsyat di dalam organ kewanitaanku. Semburan cairan ejakulasiku membasahi pangkuan dan kaki mertua ku yang dengan giat tangannya terus beraktivitas menusuk, menggelitik,dan berputar-putar di lubang memiaw dan anusku sampai aku kembali mengerang, merintih dalam kerasukan birahi."ayo, Diah...tunggu apa lagi?", tanya mertuaku. Aku segera membelakangi mertua ku mencoba duduk di atas pangkuan...dan...jleb, batang tongkol besar itu sukses tenggelam dalam cengkraman liang vaginaku, dan aku mulai bergerak maju mundur di mana mertuaku membantu dengan merangkul pinggangku menarik dan mendorong. Kali ini aku ingin menikmatinya usai kurasakan orgasme paling sensasional tadi.Keringat membasahi kening, punggung, dan dadaku. Mertuakupun kini berkeringat padahal baru saja dimandikan.Beberapa menit kemudian aku bangkit merubah posisi, kini dengan berhadapan kembali aku duduk di pangkuan ayah mertuaku yang kedua kakinya lumpuh, tapi tidak kaki tengahnya. Dengan segera payudaraku dilahap oleh mulut mertuaku setelah sebelumnya lidahnya menjilati leleran keringatku."Diaahhh,...ayah mau keluaarrrr...", erangnya denga parau."Ayo...ayaahhh, bentar lagi yahh, Diah..juga mau keluarrr,..ssshh, ayahhhh, keluarin sekarang,...aahhhhh", teriakanku seiring datangnya orgasmeku yang kedua bersamaan dengan muncratnya lahar sperma ayah di dalam vaginaku. Lama sensasi nikmat itu kami rasakan. Hingga akhirnya kulepaskan rangkulanku dari tubuh ayah. Kemudian aku rebah di atas lantai kamar mandi dengan kaki ...

...tertekuk sambil mengatur nafas.Ayah mertua mengawasiku dengan wajah puas. 2 jam kemudian aku bangkit berdiri, segera cairan sperma ayah mertua mengalir keluar dari mulut vaginaku, membanjiri paha dan terus ke betisku hingga menggenang di lantai, banyak sekali, pantas punya anak sampai 7.Aku segera membilasnya, lalu berjongkok, kencing, tepat di hadapan dan di bawah tatapan tajam ayah mertuaku yang sekilas kuperhatikan tongkolnya kembali berdiri . Kami lalu mandi berdua dan kuantar ayah kekamarnya untuk beristirahat.

3 Minggu kemudian aku dinyatakan positif hamil. Dan suamiku menyambut kabar gembira ini dengan amat bahagia. Demikian juga ayah mertuaku yang sebenarnya punya andil besar atas kehamilanku.Sebagai ucapan terimakasihku pada ayah, sesekali aku puaskan dirinya secara sexual sampai usia kandunganku 5 bulan ketika ia memutuskan untuk tidak lagi melakukannya lagi . Ketika anakku berumur 1 tahun ia meninggal dunia. Anakku mirip sekali dengan suamiku, tentu saja, karena tak lain ia adalah adiknya sendiri. Namun kini aku kembali menemui dilema, suamiku menginginkan adik untuk anakku. Adakah pembaca yang bisa membantu?

Aku Menghamili Tanteku

Namaku Edo (bukan nama sebenarnya) ini adalah sebuah cerita tentang tante saya bernam Dona , saya mulai aktif melakukan aktivitas seksual sewaktu saya masih 18 tahun. Teman-teman saya yang memberitahu bagaimana cara bermasturbasi dan saya mulai melakukan itu.dan saya benar-benar menikmatinya. Saya selalu ingin melakukan hubungan seks tetapi tidak mendapatkan kesempatan sampai saya kuliah. Saya kuliah di Kota S. saya tidak kos tetapi memustuskan untuk tinggal di rumah tante Dona yang kebetulan ada di Kota S walaupun agak jauh dari kampus. Anto Suami Tante Dona adalah seorang Pengusaha. Tanteku sangat cantik dan proposional dengan tinggi badan 165 dan berat 54 serta buah dada besar yang membuat aku cukup horny. Dari hari pertama aku sudah mulai bermasturbasi dengan menghayalkan dia. Umur dia sekitar usia 32, dia mempunyai 2 orang anak , Ria yang berusia 10 tahun dan Cinta yang berusia 7 tahun. saya menempati kamar atas yang kosong. Setelah kurang lebih satu minggu aku menjadi lebih akrab dengan Tanteku ,Segera pikiran kotor menghingapiku ketika aku berdekatan dengan dia

Tingkah laku dia juga sangat ramah. Ia mulai sering mengajaku pergi ke mall dengan memakai mobilnya. Ia bahkan tak pernah ragu untuk membeli pakaian dalamnya di depanku. Aku baru tahu bahwa dia sangat suka menggunakan pakaian dalam yang sexy. Aku sering memuji dengan mengatakan bahwa tante lebih muda dari usia tante. Suatu hari aku tidak masuk kuliah. Saya memutuskan untuk tinggal di rumah. Pada siang hari ada film di tv, jadi saya pergi ke ruang tengah untuk menonton. Ternyata dia sedang menyiram tanaman di taman belakang dengan hanya memakai kaos longgar tanpa lengan dan celana pendek sehingga pahanya yang putih kelihatan langsung penis saya menegang melihat itu.. Saya memutuskan untuk mendapatkannya pada hari itu.

Ketika dia selesai menyiram tanaman dia langsung bergabung dengan saya. Tiba-tiba listrik mati pergi. Jadi kita mulai ngobrol tentang kehidupan perkawinannya. Aku perlahan membelokan pembicaraan dan berkata “ tante sangat cantik sekali “. Saat itu dia kaget dan melihat aku bahkan dia melihat celana saya pakai. saya yakin dia melihat kemaluanku yang mengang. Saya berkata lagi “ Tante seperti kakaknya Ria bukan Ibunya “
“ kamu bercanda,Do”
. Aku berkata lagi “ sumpah Tan, apalagi kalau tante memakai Tank top dan rok pendek akan terlihat lebih muda lagi “. Saat itu dia tersenyum. Saya bertanya lagi” apakah tante dapat memakainya sekarang”
Awalnya dia menolak tapi saya terus memaksanya akhirnya dia berkata “ok”.
. Langsung kemaluanku menegang dan mulai ingin keluar dari sarangnya. “tapi kamu jangan macam macam yah “. Saya berjanji, setelah itu dia pergi kekamarnya dan Saya mulai memegang kemaluan saya.
Ketika ia keluar saya terpesona

Dia terlihat sangat muda dan seksi. dia tersenyum dan berkata” kamu melanggar janjimu.Aku Cuma tersenyum. Buah dadanya kelihatan seperti mau muntah dari tanktopnya dan putingnya keliahatan tercetak ternyata dia tidak memakai bra kebawahnya dia hanya memakai rok mini sehingga kakinya yang panjang telihat sangat sexy. Aku pergi mendekatinya dan berkata “saya ingin mencium Tante “ tapi dia menolak aku tak mau kehilangan buruanku aku pegang pinggangnya dan mulai menciumnya, untuk beberapa waktu dia berusaha melakukan perlawanan tetapi kemudian ia berhenti mencoba. Saya merasakan nafas dia sudah tidak teratur.saya mulai meremas pantatnya dan dia mengangkat roknya ke atas serta memasukan tangan saya ke dalam celana dalamnya dari belakang dan menekankan pantatnya dengan keras

Hingga akhirnya ia berhenti melawan .aku terus menciumnya dan mulai meremasi dadanya yang besar Saya membawa dia ke Sofa
Setelah sekitar 20 menit kami saling berciuman dan saling meraba, Tante Dona melepaskan pelukan dan ciumannya. Lalu Tante Dona menuntun tanganku untuk membuka bajunya. Tanpa diminta dua kali, tanganku pun mulai beraksi melepas Tanktop Tante Dona

"Tetek Dona gede banget sih. Edo suka deh," kataku sambil meraba payudara Tante Dona.
"Jangan diliatin aja donk Sayang..! Dijilat dan disedot donk Sayang..!" pinta Tante Dona.
Tanpa dikomando dua kali, aku langsung saja menjilati payudara Tante Dona yang sebelah kanan. Sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara Tante Dona yang sebelah kiri.
"Aahh.. Ohh.. fish..!" teriak Tante Dona ketika buah dadanya kujilat dan kusedot-sedot.

Secara bergantian payudara Tante Dona kusedot dan kujilati, sedangkan tangan kanan Tante Dona meremas-remas batang penisku dari luar CD-ku. Dan tanpa sadar, Tante Dona berusaha melepaskan CD-ku. Tanteku menaikkan pinggulnya saat kutarik rok mininya. Aku melihat CD yang Tanteku kenakan sudah basah. Aku kemudian mencium CD Tanteku tepat di atas kemaluannya dan meremasnya. Dengan cepat kutarik CD Tanteku dan melemparkannya ke sisi ranjang, dan terlihatlah olehku pemandangan yang sangat indah. Lubang kemaluan Tanteku ditumbuhi bulu halus yang tidak terlalu lebat, hingga garis lubang kemaluan Tanteku terlihat
"Do, tongkol kamu gede bauanget," kata Tanteku takjub melihat batang penisku yang sudah menegang.
"Masa sih Don.?" tanyaku seakan tidak percaya,
Tanteku dengan tangan kanannya terus meremas-remas kemaluaku.

Dan tidak lama Tanteku pun berjongkok, lalu tersenyum. Tanteku mendekatkan wajahnya ke kemaluanku, lalu mulai mengeluarkan lidahnya.
"Uuhh.. aahh.. enak Don..!" aku berteriak ketika lidah Tanteku mulai menyentuh kepala penisku.
Tanteku masih menjilati penisku, mulai dari pangkal sampai ujung kepala penisku. Dan kedua bijiku pun tidak terlewatkan oleh lidah Tanteku. Aku hanya memejamkan mata sambil mendesah-desah memperoleh perlakuan seperti itu.

Setelah sekitar sepuluh menit, aku merasa kemaluanku berada di sebuah lubang yang hangat. Aku pun membuka mataku dan melihat ke bawah. Ternyata sekarang separuh penisku sudah masuk ke mulut Tanteku.
"Aahh.. oohh.. yeeahh.. enaakk ba..nget Donnn..!" teriakku lagi.
Kuperhatikan penisku diemut-emut oleh Tanteku tanpa mengenai giginya sedikit pun. Lidah Tanteku bergerak-gerak dengan lincah seperti ular.

Dan sekarang kulihat Tanteku menyedot-nyedot bulu kemaluaku seperti mau dikeramasi.
"Donn.. enak Donaaaa..!" aku hanya dapat berteriak.

dengan cepat dan liar Tanteku mengocok batang kemaluanku di dalam mulutnya. Aku sudah tidak tahan lagi, kenikmatan yang kurasakan sangat luar biasa dan tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata, dan akhirnya aku sudah tidak tahan lagi dan.. "Cret.. cret.. crett.." maniku kusemprotlkan di dalam mulut Tanteku. Setelah itu Tanteku berdiri lalu duduk di sebelahku. Kedua kakinya dikangkangkan sehingga aku dapat melihat vaginanya dengan jelas.
"Sayang, sekarang kamu jilatin memiawku ini..!" kata Tanteku sambil menunjuk ke arah vaginanya.
Setelah itu Tanteku tidur telentang di lantai. Aku langsung saja menuju bagian bawah pusar Tanteku. Kudekatkan wajahku ke vagina Tanteku, lalu kukeluarkan lidahku dan mulai menjilati vaginanya.

"Ahh.. fuuckk.. yeaahh.. shiitt.. hisapnya itilnya Sayang..!" Tanteku hanya dapat meracau saat kujilati vagina dan klitorisnya kuhisap-hisap.
"Ohh.. Aahh.. fuuck.. mee.. yeaahh.. masukin tongkolmu sekarang Sayang..! Aku udah nggak tahan..!" pinta Tanteku memohon.
Aku pun perlahan bangun dan mensejajarkan tubuhku dengan Tanteku . Kugenggam batang penisku, lalu perlahan-lahan kudorong pantatku menuju vagina Tanteku. Aku buka lebar paha Tanteku, lalu aku arahkan penisku ke memiaw Tanteku yang sudah basah dan licin. Tangan Tanteku segera memegang penisku lalu mengarahkannya ke lubang memiawnya. Tak lama.. Bless.. penisku langsung memompa memiaw Tanteku Terasa seret, dan enak rasanya menjepit penisku..

"Ohh.. Sshh.. Oh, Edo.. Mmhh..." desah Tanteku ketika aku memompa penisku agak cepat.

Tanteku mengimbangi gerakanku dengan goyangan pinggulnya. Tak lama, tiba-tiba Tanteku bergetar lalu tubuhnya agak mengejang.

"Oh, Do..Aku mau keluarr.. Mmhh..." jerit kecil Tanteku.
"Terus setubuhi Aku..." desahnya lagi.

Beberapa saat kemudian tubuh tanteku melemah aku yang juga keluar tanpa melepaskan penisku dari vagina Tanteku cepat membalikan tubuhnya hingga menungging "Aduhh.. enak.. sekali Sayang..! Kamu.. pin..tarr.. Sayang..!" jerit Tanteku ketika kusetubuhi dari belakang . aku terus mengent*tnya dengan cepat. Tanteku pun membalas dengan menggoyangkan pantatnya dengan cepat,pula dan terasa ada cairan hangat yang menyembur di dalam tubuhnya.sepertinya dia mengalami orgasme kembali “ aku keluar lagi sayang…. Kamu hebat “ mengetahui hal itu aku terus mengenjotnya dengan cepat karena aku juga merasakan akan keluar Dan memang, aku sudah tidak tahan lagi, dan gerakanku makin cepat, nafas makin memburu dan dengan mengerang parau, muncratlah spermaku di dalam vaginanya, crot.. crot.. crott.., dan Tanteku yang juga kelihatannya kembali mencapai orgasme yang ketiga, mengetahui aku sudah keluar, ia memutar-mutar pinggulnya kesana kemari membuat penisku ngilu dan seperti diputar-putar. Dan kemudian ia memiawik tertahan sambil melentingkan tubuhnya dan terkulai lemas

Kami kemudian terlelap tidur karena kecapaian 1 jam kemudian kami terbangun dan Tanteku mengajak mandi bareng di kamar mandi kembali kami melakukannya .
Semenjak saat itu kami hampir tiap hari mengulangi persetubuhan ini siang ketika rumah sedang sepi sebelum aku berangkat kuliah dan malam malam sering tanteku masuk ke kamarku sehingga sebulan kemudian tanteku berkata “ kamu akan menjadi ayah sayang” selama kehamilannya Tanteku malah semakin bergairah dalam melakukan hubungan badan sampai bulan kedelapan kehamilannya pun kami terus berhubungan.Akhirnya Tanteku melahirkan bayi perempuan yang dia beri nama Elga.

Selama 5 tahun aku kuliah dan tinggal di rumah tanteku, tanteku telah melahirkan 3 orang anak yang semunya adalah hasil perbuatanku

MAMIKU SAYANGKU

alam bagi semua pembaca yang budiman dan salam kenal untuk semuanya, terutama pengurus yang telah setia membangun situs ini. Okey, saya kenalkan nama saya Bojach, atau sering dipanggil Jach. Saya asli Indonesia dari daerah Sumatera atau sering orang bilang orang melayu asli, kulit putih besih tinggi badan 178 cm. Itulah sedikit mengenai gambaran diri saya. Okey, saya langsung saja pada ceritanya.

Kejadian ini sudah mulai dari umur saya 16 tahun, sampai sekarang umur saya sudah 30 tahun dan saya belum menikah. Ceritanya bermula dimana saya memiliki satu keluarga kecil yang tinggal di daerah yang lumayan romantis. Ayah saya seorang pengusaha yang sukses di bidang nelayan dan dapat dikatakan sampai sekarang ayah saya mesih tetap menguasai di tempat tinggal saya sebagai orang terkaya di daerah Tanjung Balai, di Sumatera Utara. Mami saya memang dapat dikatakan paling dekat dengan saya dibandingkan dengan kedua kakak perempuan saya.

Kakak-kakak saya setelah tamat SMA langsung melanjutkan ke perguruan tinggi di Australia, jadi setelah saya menduduki kelas 2 SMA, kedua kakak saya sudah tidak menemani saya lagi. Sejak itu terpaksa saya hanya curhat dengan mami saya sendiri sampai dengan hal-hal yang terkecil sekalipun, semuanya saya bicarakan dengan mami.

Mami usianya waktu itu baru beranjak umur 35 tahun lebih, dimana ayah telah berumur 50 tahun. Umur mereka cukup berbeda jauh karena mami umur 17 tahun sudah menikah dengan ayah akibat dijodohkan orangtua. Kejadian ini sangat membingungkan saya hingga saat ini, dimana sampai sekarang saya tidak memiliki pacar satu pun dan tidak pernah terpikir oleh saya untuk mencarikan calon istri.

Waktu itu cuaca sangat dingin, gelap dan gerimis turun mulai dari malam sampai pagi harinya, terpaksa saya bermalas-malas tetap di tempat tidur dan seakan-akan enggan untuk meninggalkan tempat tidur. Tidak terasa sudah pukul 9 pagi, dan biasanya sudah selesai makan pagi. Kebiasaan saya setiap hari Minggu adalah bangun agak kesiangan dan paling siang pukul 8 pagi. Sebenarnya setiap harinya saya harus sudah bangun jam 6 pagi dan langsung mandi dan pergi ke sekolah.

Berhubung hari ini hari Minggu dan terasa tempat tidur merayu untuk ditiduri terus, maka bermalas-malaslah saya hari ini. Terdengar mami saya memanggil dari luar.
"Jach.., bangun..! Udah makan belon..? Udah jam berapa ini..? Jach.. Jach.. Jach..!" kedengaran suara mami mulai mendekati kamar saya dan langsung masuk ke kamar saya yang biasanyatidak pernah terkunci.
"Jach..!" mami duduk di tepian tempat tidur dan langsung mengelus kepala saya, "Yo.. ayo.. bangun Nak Sayang, udah jam 9, kamu mandi gih baru makan..!"
"Ah.. malas Mam, mau tiduran dulu. Entar aja satu jam lagi ya..!"
"Udah Mami tungguin.., entar kamu bohong lantas tidur satu harian."

Kemudian saya sedikit menggeser posisi tidur saya supaya mami bisa ikut tiduran. Sambil tiduran mami mencari-cari majalah yang mau dibacanya. Saya kelupaan kalau disitu ada Novel yang ceritanya agak 'hot', dapat dibilang hanya sekitar seks saja ceritanya. Ya.., terlanjur sudah keambil oleh mami. Saya biarkan saja dia membacanya, dan entah kenapa ada perasaan yang lain setelah mami masuk ke dalam kamar saya, seakan-akan gairah seks saya mulai menjalar menyelimuti tubuh. Bagaimana ini, repot jadinya, karena kebiasaan saya tidur hanya menggunakan piyama untuk tidur dan memakai selimut. AC di ruangan kamar saya mengigilkan badan, dan inilah penyakit saya, kalau situasi dalam keadaan dingin nafsu langsung naik dan meledak-ledak.

Posisi tidur saya waktu itu persis di samping mami dan bersenggolan dengan pahanya. Saya perhatikan mami makin serius membaca novel dan maklum tidak pernah membaca buku yang begituan. Dengan sedikit menggoda saya bertanya, "Bapa kemana Mam..?"
"Kamu macam tak tau aja, kan udah berangkat ke Kisaran, biasa ngantar Ikan. Paling-paling besok udah pulang."
"Awas Mam, nanti tidak ada pelampiasannya, Papa kan tidak ada di rumah."
"Enggak, Mama cuman pengen tau aja apa isinya, kok orang-orang pada senang membacanya." jelasnya.

Sedikit posisi saya agak memeluk mami, maklum hal ini sering saya lakukan karena saya anak Mami dan dimanja, jadi hal ini tidak janggal lagi bagi saya dan mami. Terus entah kenapa, penis saya tepat menempel di samping kemaluannya, dimana mami saya posisinya agak miring menghadap saya. Dengan cuek saya ikutan membaca novel yang dibacanya. Posisi mami membaca telentang, dan agak miring menghadap saya.

Dengan sedikit menggoyang-goyangkan paha, terjadilah pergesekan antara paha saya dengan paha mami, dan hal ini tidak pernah kami lakukan. Sesuatu yang janggal saya rasakan, dimana kalau saya bermanja-manja selalu dalam keadaan memakai celana pendek, tapi dalam keadaan saya sekarang hanya menggunakan piyama tanpa memakai apa-apa, dan perasaan ini tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Mungkin ada setan yang melanda diri saya, batang kemaluan saya pun mulai membesar, dan mungkin mami merasakan itu, tapi dia tidak menghiraukannya, masih taraf wajar pikirnya. Sekilas saya melihat ke paha mami, dasternya tersikap, dan tetap mami tidak menghiraukannya. Dia masih menganggap saya anak kecil yang seperti dulu. Tidak sadarkah dia bahwa saya sudah 16 tahun, dan saya sedang mengalami masa pubertas pertama.

Sekarang keadaan semakin tidak karuan, dan timbul dalam pikiran saya untuk melanjutkan lebih jauh lagi dengan sedikit menggeser dasternya memakai paha saya. Dan alangkah terkejutnya saya bahwa mami tidak mengenakan celana dalam. Terlihat gundul di bagian bukit kemaluannya. Ternyata mami sangat rajin mencukur bulu kemaluannya, maklum dia sangat pembersih. Dengan pura-pura tidak tahu, saya menggeser lagi piyama yang saya pakai. Tersingkap dan terbebaslah penis saya.

Dengan sedikit berpura-pura lagi, saya mengambil bantal yang ada di seberang mami, dan secara otomatis batang kemaluan saya menempel persis di samping vaginanya. Setelah saya mengambil bantal saya tidak kembali lagi dengan posisi pertama, dan pura-pura bertanya.
"Serius kali Ma bacanya..!"
"Iya.., ini ceritanya lagi seru dan menarik." katanya seakan tidak ada larangan darinya ketika saya sudah mulai jauh bertindak.
Dengan sedikit gerakan, saya menggesek-gesekkan penis saya. Meskipun batang kemaluan saya sudah langsung menempel persis di pinggir vaginanya, mami tidak merasakannya atau berpura-pura. Itulah yang berkecamuk dalam pikiran saya.

"Ah, bodoh amat..!" pikir saya waktu itu.
Dengan telaten saya terus menggesekkan, dan ternyata mami tahu kalau saya agak susah atau memang mami mau memiringkan badannya. Dengan posisi tadi mungkin mami pegal, kemudian mami meletakkan novel di bantal, dan otomatis dia semakin miring posisinya. Mami tidak berkata apa-apa sewaktu dia memiring sedikit lagi yang bertepatan dengan penis saya yang sudah tegang dari tadi seperti sebuah batang kayu. Sepertinya mami maunya tidak disengaja, atau mami juga menikmatinya. Sekarang tepatlah sudah batang kemaluan saya di belahan vaginanya dengan posisi saya masih memeluk bantal yang membatasi saya dengan buah dadanya. Saya sangsi kalau mami tidak mengetahui apa yang telah terjadi, tetapi tidak ada tanda-tanda mami melarang perbuatan saya.

Sedikit demi sedikit saya menggesek-gesek terus batang kemaluan saya, dan terkuaklah bibir vaginanya. Terasa agak berlendir dan licin vaginanya, dan saya yakin mami pasti menikmati, tapi anehnya mami masih tetap serius membaca novel. Tidak saya hiraukan mami lagi sedang apa. Kemudian dengan sabar saya menggesek-gesekkannya lagi, dan terasa kepala penis saya mulai menerobos bibir vaginanya. Itu semua saya lakukan tanpa berbicara, dan seperti terjadi begitu saja, mungkin mami malu melakukan secara blak-blakan.

Dengan sedikit usaha saya memajukan pantat dan semakin nikmat rasanya, tapi kok agak susah ya masuknya, dimana ukuran kemaluan saya 18 cm panjangnya dengan diameter 3 cm. Tapi dengan dibantu cairan yang mulai keluar dari vagina mami menolong batang kemaluan saya masuk ke dalam dengan sedikit agak menggeser bantal yang saya peluk.
Setelah agak tersentak pantat saya, "Bless..!" masuk semua batang kemaluan saya dan mendiamkan sebentar untuk melihat reaksi mami. Eh ternyata mami masih tetap membaca novel yang ada di tangannya.

Dengan sedikit menarik pantat, anda dapat bayangkan posisi saya dengan gaya miring semakin membuat kami erat terhubung. Tetapi saya belum berani memeluk mami, terpaksa bantal lah yang menjadi pegangan saya. Terasa batang kemaluan saya dipijat-pijat, nikmatnya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Semakin lama penis saya semakin mudah saya maju-mundurkan. Badan mami tertahan dengan papan tempat tidur, jadi kami tetap dengan posisi semula. Terasa sudah lama saya menggesek-gesek dan memaju-mundurkan batang kemaluan saya di dalam vagina yang dulunya adalah tempat saya lahir.

Sudah 10 menit saya melakukannya, semakin licin vaginanya. Tercium bau vagina yang menggairahkan, dan mulai terasa ngilu di kepala penis saya, seperti mau meledak. Setelah sekali goyangan terakhir dan memasukkan dalam-dalam, badanku terasa seperti kesetrum listrik yang bertegangan tinggi.
"Coot.. crott.. croott..!"
Saya peluk bantal kuat-kuat dan tetap membenamkan batang kemaluan saya di dalam vaginanya, dan saya melihat wajah mami agak berkerut menahan nikmatnya. Terasa batang kemaluan saya seakan-akan dipijat dengan kuat, dan terasa ada yang menyiram dari dalam vaginanya. Anehnya batang kemaluan saya tidak langsung lemas, tetapi tetap tegang.

Dengan sedikit waktu untuk istirahat, saya mendiamkan batang kemaluan saya di dalam vagina mami selama 5 menit. Setelah rasa ngilunya hilang, baru penis saya mengecil dan saya cabut dari vaginanya. Saya melihat ke arah vaginanya, terlihat keluar sedikit air mani saya dan meleleh di bibir vaginanya.

Akhirnya mami bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar sambil berkata, "Jach udah tidur-tidurannya, udah jam 10 ini.., tadi janjimu kamu mau bangun jam 10, cepatan mandi dan Mama mau mandi juga, mau nyiapin makanmu..!"
"Bret..!" pintu kamar tertutup setelah itu.
Saya juga bangkit dari tempat tidur dan langsung mandi. Selasai mandi saya memakai celana pendek dan langsung menuju meja makan. Saya mendapati mami sudah duduk menunggu saya untuk makan. Sewaktu makan seakan-akan tidak terjadi apa-apa diantara kami.

Setelah kejadian pagi itu terjadi, tidak ada perubahan antara hubungan saya dengan mami. Seperti biasanya, ayah saya telah kembali malam hari, tepatnya pukul 11 malam dan langsung tidur. Memang hal ini sudah merupakan kebiasaannya, tidak pernah punya waktu untuk keluarga, padahal situasi seperti inilah yang saya inginkan, dimana dapat berbincang-bincang dengan ayah atau semua keluarga. Memang dalam berbisnis ayah saya terbilang orang nomor satu di lingkungan saya.

Pagi itu cuacanya sedikit agak cerah dan matahari masuk ke dalam kamar saya karena kamar saya posisinya paling depan, sedangkan kamar mami berada di tengah rumah, dan memiliki kamar membelakangi terbitnya matahari. Terasa silau dengan sinar matahari membuat saya terbangun. Saya pun keluar dari kamar masih dengan menggunakan piyama biasa, tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Terus saya lihat seisi rumah, ternyata masih sepi. Saya lihat jam sudah menunjukkan jam 8 siang. Kebetulan bulan ini adalah hari lmamir panjang untuk naik kelas, pada waktu itu saya mau naik ke kelas 3 SMU.

Maksud hati sih masih mau tidur, tapi di kamar saya silau dengan sinar matahari. Gimana ya, mami belum kelihatan, berarti belum bangun. Terus saya berusaha melangkah ke dapur, ternyata juga belum saya jumpai, berarti benar mami masih tidur di dalam kamarnya. Saya mengarah ke kamar utama, ke kamar ayah dan mami yang lumayan besar. Saya langsung saja mencoba membuka pintu dengan menekan gagang pintu, eh pintunya tidak terkunci. Pelan-pelan saya buka pintu. Benar, terlihat mami masih tertidur pulas, dan saya langsung masuk. Saya menutup pintu kamar, takut nanti kelihatan pembantu, kan bisa berabe.

Kemudian saya mendekati tempat tidur mami, sekilas saya melihat sekeliling kamar tertata rapi, mami memang terkenal suka bersih-bersih. Dengan sedikit lembut saya menghempaskan pantat saya ke tepian tempat tidur, dan sebentar saya perhatikan mami yang sedang tidur nyenyak. Dengan sedikit agak manja saya mencoba membangunkannya.
"Mami.. Mami.., bangun dong..! Udah jam 8 pagi nih..!"
"Ah.., entar aja Jach.., Mami lagi ngantuk nih..!"
Mendengar jawabannya, saya jadi ikut tiduran di tempat tidurnya. Dengan sedikit iseng saya mulai kenekatan saya.

Pelan-pelan tetapi pasti, saya sikapkan daster mami dengan tangan. Oh.. oh.., dia tidak memakai CD lagi, terlihat bersih vagina mami. Batang kemaluan saya berdiri tegak dan langsung menyembul dari dalam piyama. Lima menit saya memandangi kemaluan mami sambil mengelus-elus penis yang sudah mulai tinggi tegangannya.

Kemudian saya mulai memeluk mami dengan posisi mami miring membelakangi saya. Sewaktu saya memeluk tubuhnya, dengan sedikit tenaga saya menarik tubuh mami, dan ternyata mami tidak melawan dan mengikuti kemauan saya. Sekarang mami menghadap saya sama seperti kemarin, hanya kemarin mami dalam keadaan terbangun, membaca novel dan saya tidak memeluk tubuhnya, tetapi sekarang saya memeluk tubuhnya. Posisi dasternya agak tersikap lebih ke atas. Saya mencoba mencari pengaitnya tapi tidak ketemu juga, ya sudah tidak usah terbuka semuanya, nanti takut mami marah pikir saya. Dengan posisi memeluk tubuhnya yang susu kenyalnya mengenai dadaku, saya tidak berani membuka dasternya, apalagi takut kedinginan gara-gara AC di kamar mami.

Sekarang nafsu saya sudah tidak tertahankan lagi, langsung saya arahkan batang kemaluan saya ke bibir vaginanya, dan ternyata liangnya masih kering dan sedikit agak susah masuknya. Terpaksa saya hanya menggesek-gesek saja bibir kemaluannya. Terlihat oleh saya vaginanya mulai mengembang dan mengeluarkan cairan, langsung saja saya memasukkan penis saya. Sewaktu saya mendorong, terpleset. Setelah dengan susah payah menggesek-gesek, terlihat bibir vaginanya mulai mengeluarkan cairan sebagai pelumas. Mulai terasa seakan-akan batang kemaluan saya mau ditelan habis oleh vaginanya, dimana bibir vagina mami mulai kembang kempis.

"Ah.. ahk..!" geli sekali rasanya.
Ingin rasanya saya memasukkan cepat-cepat, tapi takut terpeleset lagi nanti. Memang agak kesulitan saya memasukkan penis saya. Disaat saya mulai berusaha memasukkan lebih dalam lagi, mami juga rupanya menikmati. Dengan pura-pura tidur dia sedikit merenggangkan pahanya dan memudahkan penis saya masuk lebih dalam lagi. Dengan sekali dorong, "Bless..!" masuk seluruhnya ke dalam liang senggamanya. Saya diamkan agak lama dengan maksud mau melihat bagaimana reaksi mami. Saya sengaja tidak mau menggoyangkan pantat saya, dan ternyata terasa tanggung bagi mami. Kemudian dengan sedikit gerakan, mami memaju-mundurkan pantatnya. Melihat reaksinya, saya juga langsung memulai bergoyang dengan sedikit kelembutan. Secara tidak langsung saya memeluk mami, dan mami masih tetap menjaga sikap dengan tidak mau blak-blakan melakukannya.

Tidak perduli saya dorong badannya dengan posisi saya menindihnya, sedang batang kemaluan saya mulai terasa mengalami tegangan tinggi. Dengan posisi saya di atas mami yang dengan sikap merenggangkan kakinya lebar-lebar semakin cepat saya memompa, dan sekali-kali mami mengikuti irama dengan mengangkat pantatnya. Ada sekitar 20 menit saya melakukannya dan mulai terasa geli di ujung penis saya, dan "Cret.. cret.. cret..!" saya tumpahkan semuanya ke dalam kandungan mami dimana saya juga pernah dikandungnya.

Saya diamkan selama kurang lebih 5 menit. Karena takut mami merasa berat dengan badan saya, saya tetap memeluknya dengan posisi miring sekarang, dan batang keamluan saya masih tetap menancap di dalam vaginanya. Setelap 10 menit terasa penis saya masih tegang. Kembali dengan sikap yang sama kulakukan lagi sampai 3 kali hari itu. Setelah selesai saya tertidur, dan sewaktu saya bangun mami tidak ada lagi. Ketika saya cari-cari, dia sedang masak di dapur dan menegur saya.
"Udah mandi belon Jach..? Mandi gih..!" katany seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Memang mami sangat menikmatinya, begitulah kami melakukan hampir setiap hari dengan tetap mami menjaga sikap tidak mau melakukan secara terbuka.

TAMAT

Ibuku Cinta Sejatiku

Cinta Sejati ku

Aku di besarkan di Jakarta kelahiran tahun 1984, Aku anak bungsu tiga bersaudara. Cerita ini tentang ibuku yang cantik dan seksi, Cerita tentang pengorbanan dan cintanya padaku. Namanya Citra Ayahku menikahi ibu dalam usia 15 tahun, setahun kemudian kakak ku Erik lahir, didikuti oleh kakak perempuanku Ratna, lalu setahun kemudian lahirlah aku, Mada.
Ayahku bekerja pada sebuah perusahaan pertambangan milik Negara, ayahku orangnya santun dan rajin, Cuma ada satu cacatnya ayah, dia hobi minum, sering kalo malam sepulang kantor ia minum-minum samapi tidak sadarkan diri sehingga harus di gotong ketempat tidur. Tapi biarpun begitu dia sangat baik pada ibuku dan aku bias merasakan bahwa ayah menghormati dan mencintai ibuku.
Kakak saya, Erik, selalu dalam kesulitan baik di dalam dan luar sekolah, ibu dan ayah melakukan semua yang mereka bias untuk menolong kakakku ini tapi kayaknya ngga ada efek. Sedangkan kakakku Ratna orangnya pendiam. Kalo aku yang paling cerewet di keluarga.
Aku selalu berusaha membantu ibu pada setiap kesempatan, dan ibu selalu mencariku untuk dimintai bantuan. Dengan cara ini membuat ku dekat dengannya. Aku selalu meluangkan waktu untuk ngobrol dengannya, ini bias membantu ibu untuk mengatasi kebosanan harinya.
Ayah pergi bekerja di pagi hari dan pulang larut malam dan ketika ia akan pulang ia akan melanjutkannya dengan minum-minum, hal ini membuat ibu merasa diabaikan.
Bagiku bahwa dalam pernikahan orrang tua ku sudah tidak ada bunga-bunga asmaranya lagi walaupun aku tau mereka tetap saling mencintai
Aku, bekerja paruh waktu setelah sekolah Dalam rangka menambah uang jajanku; ini membuatku punya sedikit waktu untuk bersosialisasi.
Setelah anggota keluarga lainnya sudah tidur, ibu dan aku akan duduk di meja dapur untuk ngobrol2. Aku tahu ibu sangat menikmati saat-saat kita ngobrol berdua.. Tahun-tahun berlalu, aku dan ibu menjadi sangat dekat. Dia akan sering memelukku dan berkata bahwa aku cahaya dalam hidupnya. Saya sangat dewasa untuk anak seusiaku .
Ketika aku berumur enam belas tahun aku mulai melihat ibu dalam cara yang berbeda. Aku melihat ibuku itu sangat seksi sekali .
Dia punya rambut hitam panjang, Dan bahkan setelah melahirkan tiga anak-anak dia tetap terlihat sexy, dengan ukuran dada 36.
Seberapa dekatkah aku dengan ibu? kita sangat dekat, kita tidak sungkan lagi berbicara hal-hal yang pribadi dan rahasia. Aku bercerita tentang aku dan teman-teman wanita ku, apakah aku suka atau tidak suka, dan dia berbicara tentang masa lalunya sebelum ia menikah dengan ayah.. Dia tidak pernah menyesali perkawinan karena menghasilkan beberapa hal penting dalam hidupnya, yaitu suami dan anak-anaknya.
Aku mulai berusaha untuk mendapatkan pelukan dan ciuman ibu. Aku mulai menuai hasil dari segala pujian ku ke ibu, dimana ia akan bersemu merah.bila aku mulai memujinya atau memberikan ia bunga dengan disertai catatan betapa aku saying padanya.
Aku mulai rutin membawanya ke bioskop film dan makan malam pada akhir pekan.
Di bioskop memegang tangannya, lalu aku mulai meletakkan lenganku di bahunya di mana dia akan
bersandar dan menyandarkan kepalanya di pundakku. Aku tahu dia selalu menunggu-nunggu untuk akhir pekan bersamaku dan ia
selalu mencoba untuk memilih film dengan baik sebelumnya. Setelah nonton film kita akan menuju pantai untuk menikmati malam. Kami
bicara tertawa dan mengolok-olok satu sama lain. "Mad", katanya suatu hari, "ibu pikir kamu harus kencan dengan gadis
seumuran kamu, ibu tidak ingin memonopoli kamu ". "Bu" kataku. "Mada Cuma pengan sama kencan sama ibu,. Mada udah coba untuk pergi dengan gadis-gadis lain tapi selalu memikirkan ibu ".

Ibu menarik kepalanya ke belakang menatapku heran dan kemudian diam.

"Ibu apa yang Mada bilang salah?".

"Ibu pikir kita sebaiknya pulang" katanya …..
Aku mengutuk diri, menyesali apa yang aku katakan, tapi tahu bahwa itu keluar dari hati, dan tak mungkin aku tarik kembali.

"Bu," kataku, "Mada minta maaf kalau Mada menyinggung Ibu,. Jangan marah sama Mada karena mengatakan Mada cinta Ibu dan Mada akan

melakukan apa saja untuk membuat Ibu bahagia ". Keheningan itu berlangsung selama beberapa waktu dan kemudian dia menatapku sedih. "Mada itu bukan salah kamu tapi salah ibu. Tidak seharusnya kita pergi kencan seperti ini, walaupun ibu kesepian "

"Bu," aku berkata "Mada berharap itu tidak terjadi..aku benar-benar sayang ibu".

"Sayang…. ini hal yang tidak boleh terjadi antara seorang ibu dan anak ".

"Bu," jawabku dengan putus asa, "apa yang telah terjadi tidak bisa ditarik kembali tapi mada akan buktikan apa yang mada katakan ". Ibu terdiam lama lalu menangis. Aku menariknya ke dadaku dan memeluknya. "Mad" bisiknya. "Ibu pikir kita harus pulang"
Ibu menjadi lebih dingin kepadaku setelah itu. Meskipun aku memohon , tapi, dia tidak membiarkan saya membawanya keluar pada akhir pekan, ibu bilang aku harus mencari kencan yang seumuran dengan ku. Aku bisa melihat bahwa hal ini menyakitinya sama seperti yang aku rasakan.
Hari berlalu Ibu tampak semakin murung. Hal ini berlangsung selama sebulan.
Ayah melihat perubahan ini dan bertanya mengapa ibu tidak pergi ke bioskop dengan ku lagi. Ibu menggeleng dan berkata mengapa bukan ayah mengajaknya ibu keluar.
"Kamu tahu Sayang, Aku bekerja keras dan Minggu adalah satu-satunya hari libur. Aku lebih memilih untuk tinggal dan bersantai di rumah, "jawabnya. Dia mabuk seperti biasanya. Lalu percecokkan pun terjadi yang berakhir dengan Ibu keluar ke kamar tidur dan membanting pintu.
Pada hara Selasa, ketika ayah, kakak dan adik saya berada di luar rumah aku mengajak ibu keluar lagi. Yang mengejutkan dia diam-diam menganggukan kepalanya tanda setuju. Aku lalu memeluknya dan dia meletakkan kepalanya di bahuku. Aku memeluknya erat-erat menunjukkan kepadanya bahwa dengan persetujuan-nya hubungan kami telah berubah. Aku dengan sangat lembut membelai punggungnya. Dia terus menyandarkan kepalanya dibahuku. Aku menatap matanya dan berkata dengan tenang. "Ibu aku mencintaimu dan aku tidak bisa mengubahnya". Aku membungkuk mencium pipinya, lehernya, dan kemudian dengan berani mengecup bibirnya. Ibu tidak menolaknya. Saya sangat gembira bahwa akhirnya, tampaknya ia menanggapi perasaanku.
Bungaku kini diterima dengan ciuman hangat di pipi.
Ketika kami hanya berdua, kami berpelukan kembali tapi tangan dengan lembut membelainya.
Pada hari-hari berikutnya sebelum kita kencan, aku melihat perubahan pada dirinya. Kutanya kenapa, ibu menjawab bahwa ia
Senang akan nonton film denganku . Kakakku Ratna tersenyum padaku berkata bahwa aku telah berhasil mengajak ibu keluar.
Aku mengatakan padanya bahwa ibu memang perlu istirahat.
Malam itu ibu tampak mempesona dalam gaun ketat. Payudara dan pantatnya terlihat semok sekali. Aku terpana melihatnya Ia tampak sangat muda. Aku menerima banyak tatapan iri dari laki-laki lain. Kamu menonton film drama yang romantis malam itu Seperti biasa aku merangkul
ibuku sementara ia menyandarkan kepalanya di pundakku. Setelah film seperti biasa kami pergi ke pantai.
Ibu menatap mataku dan berkata, "Mas, terima kasih untuk kesabaranmu dan terima kasih untuk malam yang indah ini ".
Aku memandang ibu dan berkata, "Ibu tampak seksi sekali malam ini".
Ibu bersemu merah dan tertawa "Mada kamu sepertinya sedang merayu ibu".

Aku memandangnya dan berkata, "yah…memang".
Ibu menarik kepalanya ke belakang dan menjawab, " Mada, aku ini ibu kamu dan selain itu ibu sangat mencintai ayahmu ".

" apakah ibu benar-benar mencintainya? Mada lihat ayah telah mengabaikan ibu dan Mada tau ibu sangat tidak bahagia. Beri Mada kesempatan, Mada dapat membuat ibu bahagia! "
Dia menjawab pelan setelah jeda panjang, "Mada mungkin kita harus pulang sebelum salah satu dari kita melakukan sesuatu yang kita dapat sangat menyesali seumur hidup kita ".
Aku menjawab. "Bu.. mada minta maaf tapi ibu begitu cantik, ibu membuat mada mengatakan dan melakukan hal-hal yang ngga bisa Mada kontrol. Sering kali Mada berharap ibu bukan ibuku mungkin itu akan lebih mudah buat Mada ".
Aku bisa melihat bahwa ibu merasa senang mendengar pujian itu. Aku yakin ayah tidak pernah melakukan hal itu.
Ibu membelai pipiku, "Ohh… sayang …. Apakah menurut mada ibu benar-benar cantik? "
Aku tersenyum dan menjawab "Ya …ibu cantik dan seksi sekali. Tiba-tiba Aku membungkuk dan menciumnya.
Ibu tidak menolaknya tetapi tetap pasif dan kaku dalam pelukanku.
Aku terus menciumnya dengan bergairah. Tiba-tiba ibu meresponnya dengan memberikan tekanan yang sama terhadap bibirku. Aku ciumi seluruh wajahnya dan pipinya, matanya, hidungnya dan kembali ke bibirnya. Aku mengecupnya lembut dan mencoba memasukkan lidahku dan ia membuka bibirnya. Tiba-tiba ibuku berkata, "Mada sudah malam ibu kira kita harus pulang ".
Ketika kami kembali ibu menyandarkan kepalanya ke pundakku. Aku bisa melihat senyum di sudut mulutnya. Setengah jalan ke rumah aku berhenti di sebuah jalan kecil, ibu terkejut. Aku memarkir mobil untuk berhenti, dan menarik ibu ke arahku, dan mulai menciumnya.
Dengan lembut kuletakkan tanganku di payudaranya, ibulu tampak menegang, lalu melepaskan ciumannya dan berbisik, "Mada, kita tidak boleh melakukan ini ". Tapi aku memotong protesnya lebih lanjut dengan mengecup kembali bibirnya. Aku terus membelai payudaranya.
Payudaranya terasa padat di dalam tanganku. Aku tahu ibu menikmatnya karena ia mulai mengerang dan semakin ganas menciumku.
Tiba-tiba ia menarik kembali dan berkata, "Mada kita harus pulang".
"Baik bu". Ketika kami tiba, rumah sepi. Semua orang sudah pergi tidur. Aku tahu ayah akan cepat tertidur karena mabuk. Ketika kita masuk
rumah ibu dan saya mulai lagi berciuman di ruang tamu. Mula-mula ia protes mengatakan bahwa seseorang bisa melihatnya.
Aku menjawab pelan, "Ibu Mada mencintai ibu seperti Mada belum pernah mencintai siapa pun sebelumnya. Mada hanya ingin mencium ibu sepanjang waktu. Mada tidak dapat menahannya. Lagi pula semua orang sudah tertidur lelap ".
"So Sweet….. Mada, ibu juga cinta kamu! Tapi ibu wanita yang sudah menikah dan bagaimanapun kekurangan ayahmu ibu masih mencintai dia!" "Ibu", aku berbisik, "Yang kita lakukan adalah penciutan Mada tidak melihat ada salahnya itu? " "Tapi, Sayang seseorang bisa bangun dan melihat yang kita lakukan". Tiba-tiba aku punya ide. "Ibu, bagaimana kalau pergi ke kamarku. Kita dapat mengunci pintu. Ayah…. Mada yakin sudah mabuk dan tidak akan mencari ibu ". Ibu diam selama beberapa detik. Aku terkejut ketika dia mengangguk setuju.
Ibu menjawab, "Pergilah ke kamar dan tunggu ibu, ibu periksa ayahmu dulu". Di kamar, aku berjalan mondar-mandir penuh gelisah. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka dan ibu melangkah masuk la menutup pintu dan menguncinya. Dia mendekatiku dan berkata, "Ayah tidur…. mabuk seperti biasa".
"Sayang, ibu pikir kita tidak boleh melakukan ini, ini bisa kendali", bisiknya." Ibu tidak pernah mengkhianati ayah ". "Mada tahu" Aku jawab "Tapi ibu, Mada tidak akan pernah menyakiti Ibu. Mada sangat mencintaimu ibu ".
"Oh… Mada" kata ibu malu-malu dan mencium pipiku. Aku mulai bermesraan dengan ibu di tempat tidurku dan mulai menciumnya dengan bernafsu Tanganku sekarang menggrayangi seluruh tubuhnya, membelai payudara satu dan pantatnya.
Aku lepas kancing di bagian depan bajunya. Ibu menjadi kaku dalam pelukanku selama beberapa detik, tapi kemudian ia bisa lebih santai. Aku dengan cepat membuka kancing dan melepas bajunya secepat mungkin takut dia akan berubah pikiran setiap saat.

Sementara aku terus menciumnya. Aku meraih ke belakang dan melepas BH-nya. Lagi ibu protes dan berbisik lemah, "jangan Mada ".
Aku memotong protesnya dengan menciumnya lagi. Tiba-tiba Payudara telah terbuka. Aku menjadi bernafsu dan mulai meremasnya Payudaranya terasa lembut dan seksi. Aku membungkuk dan menghisap putingnya dalam mulutku dan mulai menjilati dan mengisap.
Ibu mengerang dalam nafsu. Puting terasa menegang. ”Ibu…Mada cinta pada ibu, MAda tidak bisa menahan diri. Mada tahu Mada harusnya merasa bersalah tapi aku tidak peduli "
Aku terus menciuminya Ibu mendesah. Aku mencapai pusarnya dengan lidahku dan mulai mencium dan menjilati. Aku mulai membelai kakinya ke atas dan ke bawah, sambil mencium pusarnya. Perlahan-lahan tanganku bergerak lebih jauh dan lebih jauh di bawah roknya. Pahanya merasa
padat dan lembut. Ibu menegang saat tanganku mencapai bagian selangkangannya. Aku mengulurkan tangan dan mencari bibirnya dan dengan lembut memaksa mereka terbuka dengan lidahku. Ibu mengerang di dalam mulutku. Dia membuka pahanya. Aku menggelengkan kepala tak percaya. Ibu, wanita impianku, wanita yang sama yang telah melahirkanku dan saudara-saudaraku, wanita yang telah melahirkan ku membiarkan bercinta dengannya. Aku mengelus-elus melalui celana dalamnya. Ibu mengerang dalam kenikmatan. Aku bisa merasakan untuk vaginanya mulai basah melalui celana dalamnya. Aku menarik tanganku keluar dari roknya, dengan cepat membuka ritsleting roknyadan menariknya ke bawah. aku berdiri, melepaskan pakaianku secepat mungkin. Penis saya keras seperti batang besi. Aku menuju bawah tubuh ibu sampai mulutku menempel ke celana dalamnya. Hanya terpisah celana dalam, vaginanya dari mulutku. Aku menarik napas dalam-dalam menghirup aroma memabukkan dirinya. Aku melihat rambut kemaluannya mencuat di sisi celana dalamnya.
Aku mulai menjilati selangkangan lewat celana dalamnya. Aku mulai menikmati cairan vaginanya nya yang merembes melalui
celana dalamnya. Aku meraih dan mengaitkan jari saya di pinggang celana dalamnya dan mulai menarik mereka. Tiba-tiba ibu tersentak.

"Oh, Sayang, tidak, kita tidak boleh" katanya. "Mada anak Ibu dan Kita tidak boleh melakukan ini. Lagi pula Ibu tidak mau menghianati ayah. "
"Ibu, Mada mencintai Ibu. Ibu adalah wanita paling cantik di dunia. Mada tahu itu tidak biasa bagi seorang ibu dan anak untuk melakukan hubungan seksual. Tapi Mada percaya bahwa wajar untuk bercinta dengan seseorang yang dicintai." "Tapi Mada…, bagaimana jika orang laintahu."
"Ibu tidak ada orang perlu mengetahui hal ini" "Tapi Mada…" Aku menciumnya sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.
Aku mencium rambutnya, matanya, dan sekali lagi bibir nya seksi. Ibu pasrah dalam pelukanku. Kitamulai berciuman kembali dengan lebih bergairah. Lidah kami berduel satu sama lain. Aku mengulurkan tangan dan menarik celana dalamnya. Kali ini ia tidak menolak. Aku menariknya dan melemparkannya ke lantai.
Secara naluri dia menutupi vaginanya dengan tangan Aku dengan lembut menarik tangannya. Aku menatap gairah kemaluannya.
Ibu mengulurkan tangan meraih kepalaku dan mulai menciumku saat aku dengan lembut membelai vaginanya. Jari tengah kumasukkan ke
vaginanya. Pernah dalam mimpiku aku bermimpi bahwa suatu hari Ibu akan membiarkan aku menarik celana dalamnya ke bawah dan membelai kewanitaannya. Vaginanya sangat basah, aku kemudian mulai mencium dan menjilatinya.
Sementara Ibu mengerang dalam kenikmatan. Aku kemudian menarik vaginanya terbuka. Aku menghirup bau femininnya. Aku menatap dinding bagian dalam vaginanya. Aku menjilatnya. Aku menjilat dinding sekitarnya menikmati vaginanya yang sangat basah. Aku jilati juga clitorisnya dan Ibu menjerit dalam kenikmatan.
Aku meletakkan sebuah jari di vaginanya dan mulai mengerakkannya keluar masuk. Napasnya semakin memburu. Aku terus merangsang clitorisnya untuk waktu yang lama. Ibu menjadi sangat basah. Jemariku basah kuyup dengan cairannya. Tiba-tiba ibu menegang dan mengerang pada waktu yang sama. Kemudian tubuhnya bergetar terus ketika aku menjilat clitorisnya dengan cepat. Aku tahu dia baru saja mencapai klimaks. Dia cepat-cepat menarik saya ke atas dirinya.
"Sayang, Itu enak sekali". Dia berbisik malu-malu. "Ibu tidak pernah orgasme seenak ini. "Ibu seksi dan cantik sekali. akhirnya mimpiku untuk bercinta dengan ibu menjadi kenyataan. " "mada benar-benar berpikir Ibu cantik sayang?." “ ya"
Ibu mengulurkan tangan dan menarik saya untuk bibirku dan kemudian memaksa mulutku terbuka dengan lidahnya. Pada saat yang sama ia
mengulurkan tangan dan meraih penis saya dan mulai untuk menggosok ke atas kebawah vaginanya yang sangat basah. Dia menjadi menggelinjang. "Bu" bisikku. "Mada cinta Ibu". Dia membentangkan kedua kaki lebar dalam diam dan meletakkan penisku di lubang vagina nya. Aku menatap dalam-dalam matanya saat ia mulai menarik pinggangku ke dia. Penisku termasuk besar untuk seusiaku . vaginanya perlahan membuka seperti kelopak bunga. Pinggang Ibu didorong ke arah pinggangku dan panis saya meluncur ke dalam vagina kedasarnya . Vagina Ibu
sangat ketat bagi seseorang yang melahirkan tiga anak. Aku bisa merasakan otot-ototnya mencengkeram. Aku kemudian menggerakkan penisku keluar masuk. Saya kemudian mulai menyetubuhi ibu dengan sangat bergairah. Tubuhnya bergoyang dalam irama persetubuhan kami. Penisku
segera basah dengan cairan pelumas. Kami bergerak seolah-olah kita dibuat untuk bercinta satu sama lain.. Aku bisa merasakan ujung penisku menghantam mulut rahimnya. Ibu mulai bernapas berat dan berat. Setelah selama sekitar lima belas menit Ibu

tiba-tiba menjadi tegang dan mencengkeram pantatku. Aku bisa merasakan mulai vaginanya mulai kontraksi dan pada saat yang sama aku pun mengeluarkan spermaku di rahimnya. Aku merasakan spermaku banyak sekali samapi tumpah keluar dari vaginanya.

Kami lalu berciuman satu sama lain. Aku mulai bergairah dan penisku mulai kembali keras di vaginanya. Aku perlahan mulai

maju-mundur di vaginanya. Kali ini kami bersetubuh dengan lambat dan lembut, berlangsung lebih lama. Ibu dan aku orgasme pada saat yang sama .
"Mada sayang" katanya setelah persetubuhan romantis "tongkol kamu besar juga ya, Ibu tidak pernah merasakan seenak ini dengan ayahmu. Ibu tidak ingat kapan Ibu orgasme terakhir Kali dengan Ayah. "Aku tersenyum bangga. Persetubuhan pertama saya dengan ibu sudah lebih baik daripada apa pun yang ayah telah mampu berikan bertahun-tahun mereka menikah.
"Oh ibu, itu hanya karena Mada sangat mencintai ibu" "Oh Sayang ini orgasme terbaik sejauh ini" katanya.
"Mada, Sayang" Ibu berbisik. "Ibu harus pergi kembali ke kamar. Ibu ngga mau yang lain jadi curiga. Kami berciuman untuk beberapa waktu. Ibu lalu bangkit membersihkan dirinya. "Ibu… bisa mada simpan celana dalam ibu" Aku bertanya dengan berbisik. Ibu diam.
"Sebuah souvenir? " tanya ibu nakal.

"Ya," jawabku. "Hanya jika kamu menyembunyikannya". Ibu meletakkan celana dalamnya kembali dan ia menyelinap keluar dari kamar ku. Aku melihat penisku mengkilap dengan cairan persetubuhan kami.

Hal terakhir yang saya ingat adalah aku tertidur dengan celana dalam ibu di pipiku.
Bersambung…..

Part 2
Keesokan harinya Ibu tidak berani melihat mataku ketika kita duduk sarapan di meja makan. Aku pikir aku telah melakukan kesalahan besar. Selesaii sarapan aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Saat Ibu masuk ke kamarku. “Mada” katanya, "kita perlu bicara." "apa ada yang salah. Bu?" Ibu tersipu.
"Sayang kita tidak bisa mengulangi apa yang kami lakukan tadi malam" Sebelum aku protes lebih jauh ia memberi isyarat padaku untuk diam.
"Sayang, ibu pikir malam tadi itu indah sekali. Ibu akan selalu mengenangnya. Tapi ibu tidak pernah mengkhianati ayahmu, kecuali tadi malam. Ini tidak akan terjadi lagi. " "Bu," aku protes saat aku bergerak ke arahnya dan menariknya ke arahku.
“Ibu..Mada cinta ibu dan Mada tahu ibu cinta Mada. Berikan cinta kita kesempatan. "

Aku mencoba menciumnya tapi ibu menghindar dan menarik diri dari pelukanku dan menggelengkan kepalanya.
"Ibu," kataku, saat dia sudah siap untuk meninggalkan kamar "Mada tidak akan pernah berhenti mencintai Ibu dan tidak akan berhenti mengejar Ibu"
Ibu meninggalkan kamarku dengan mata berkaca-kaca.
Keadaan lalu adem anyem saja setelah itu. Dan meskipun aku bisa melihat bahwa ibu tidak bahagia dia tidak akan beranjak dari ketetapan hatinya. Kemudian sesuatu yang aneh terjadi ketika Aku mulai kenal gadis ini
Lisa namanya yang tinggal ngga jauh dari rumahku. Aku melihat bahwa sikap ibu terhadap ku berubah. Ibu bertindak lebih seperti
seseorang yang cemburu. Ibu bisa marah kepaaku walaupun dalam persoalan yang sepele.
"Mada" katanya suatu hari ketika aku bersiap untuk kencan dengan Lisa. "Ibu pikir Lisa memberi pengaruh buruk ke kamu"
Aku tertegun. "Ibu cemburu sama Lisa. "
“Nggak, ibu nggak cemburu sama dia ", bentak ibu.
"Oh,…Mada pikir Ibu cemburu." Kataku dan berjalan keluar sebelum ibu menjawab.
Diam-diam aku senang bahwa ibu cemburu. Ini memberi ku harapan bahwa mungkin ibu akan mempertimbangkan kembali hubungan kita.
Yah harapan itu terkabul lebih cepat ternyata. Suatu hari ketika hanya ada aku dan Ibu, ibu bertanya, "Mada….mmm…weekend mau ngga nonton sama Ibu…” Aku terkejut…"Ibu….iya bu Mada mau" kataku.
Aku tidak bisa menunggu hinga akhir pecan tiba.
Hari itu ibu memakai pakaian yang seksi sekali. Aku hamper tidak percaya bahwa wanita seksi di sebelahku adalah ibuku. Setelah selesai nonton kami pergi daerah pinggir pantai. Aku menariknya kelenganku dan ibu tidak melawan. Kami mulai berciuman dengan penuh gairah. Tanganku menjelajah di seluruh tubuhnya. Aku bisa melihat ibu menikmatinya.
Setelah satu jam atau lebih bercintautan aku dan ibu kembali pulang. Ketika kita sampai di rumah semua orang sudah tertidur.
"Pergi ke kamarmu dan tunggu ibu, ibu mau memeriksa ayahmu." Bisik ibu.
Aku telah melepas pakaianku dan berbaring di tempat tidur ketika ibu masuk kamarku. Setelah mengunci pintu ibu pun naik ke tempat tidur. Lalu kami berciuman dengan penuh gairah. Dengan cepat aku buka pakaian ibu dan berguling di atasnya. Aku mencium setiap jengkal tubuhnya berrkali-kali. Aku remas payudara ibu. Dia memegang penis ku, yang seperti baja, dan mengarahkannya ke vagina-nya. Aku menekan dan dengan mudah masuk ke vaginanya yang sangat licin. Aku memegang pantat ibu dan mulai bercinta dengannya. Ibu mengerang nikmat.. Kami berguling-guling di tempat tidur, kadang-kadang dia berada di atas dan di lain waktu aku diatas. Kami bercinta untuk waktu yang seakan lama sekali dan akhirnya pun aku semprotka spermaku di dalam vaginanya berbarengan dengan ibuku yang juga mencapai orgasmenya.
"Sayang," katanya, "ini adalah yang terbaik sejauh ini". “Ibu, Mada senang Ibu berubah pikiran". "Oh, Anakku..Ibu merindukanmu, dan ketika Mada mulai berkencan dengan perek itu. " "Maksudnya Lisa bu?," aku menyela dengan tertawa. "Ya, dia," katanya.
"Ibu sadar Ibu cemburu dan bahwa ibu mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini" "Sebagai seorang kekasih" aku bertanya nakal.
"Ya sayang, ibu mencintaimu, bukan hanya sebagai seorang ibu, tetapi sebagai seorang kekasih dan ibu tidak tahan berpisah dari Mada. " bisik ibu.
"Apakah Ibu mencintai Mada lebih dari ayah." Aku bertanya. "Oh, Mada, ibu menghormati ayahmu, tapi ibu tidak mencintainya. Dulu ibu pikir ibu mencintainya, tapi setelah berada bersama Mada sekarang ibu baru tahu apa itu cinta. "
"Mada mencintaimu ibu. Ibu telah membuat Mada anak paling bahagia di dunia. Mada tak ingin membagi ibu dengan orang lain, bahkan ayah. Ibu milik Mada. Tubuh Ibu adalah milik Mada. Aku ingin ibu telanjang sepanjang waktu. Saya ingin terus menyetubuhi ibu sepanjang waktu. "
"Oh, sayang ibu menyukainya. Mada, ini akan menjadi rahasia kita. Ibu ingin berada di pelukan Mada telanjang sepanjang waktu tapi kita harus hati-hati. Ibu tidak ingin ayahmu, Kakakmu atau adikmu tahu. Ibu tahu ini akan menghancurkan hati ayahmu "
"Ya Ibu mada tahu," jawabku. Kami pun berciuman; tanganku membelai payudaranya. Aku kemudian menghisap putingnya yang indah dengan penuh semangat. Ibu mendorongku telentang dan naik di atasku dan mengarahkan prnisku ke vaginanya. Ibu menekan ke bawah sampai penisku masuk ke vaginanya lalu ibu bergerak naik turun. perlahan pada awalnya kemudian menjadi sangat cepat. Lalu lidahnyapun mulai bermain di mulutku. Sesaat kemudian ibu ku membuka mulutnya seperti orang teriak tapi tak ada keluar suara dari mulutnya, Aku tahu itu tandanya Ibu sudah mendapatkan orgasmenya. Aku berguling keatas tubuhnya dan mengeluar masukkan penisku dengan nafsunya.. Tubuhnya bergetar di setiap hentakan yang aku buat. Ibuku pun menjerit pada saat aku benamkan penisku di rahimnya dan memenuhinya dengan air mani.
Lalu setelah itu kamipun berciuman lembut, peniskupun masih berada si vaginanya. Ibu mendorongku telentang dan mulai menciumi seluruh tubuh ku
Ketika ia mencapai selangkanganku dia memasukan penis kerasku kedalam mulutnya. Ibu lalu memberiku oral sex, ketika aku orgasme ibu lalu Ibu menelan semua spremaku.
Sejak saat itu kami mencoba untuk menghabiskan setiap kesempatan dengan berdua saja. Setiap kali kami hanya berdua ibu akan mengajakku untuk bercinta. Ibu sedang berada di puncak gairah seksual dan terus-menerus horni,aku tahu karena ketika aku menarik celana dalamnya dia sudah basah kuyup. Aku bangga ketika Ibu mengatakan kepada ku dengan malu-malu bahwa ia bisa basah dengan hanya memikirkan aku.
Aku memutuskan hubunganku dengan Lisa atas perintah ibu. Beberapa kali kami melakukan tindakan gila dan mengambil risiko.
Suatu kali, sementara anggota keluarga yang lain sedang berada di ruang tamu, dan ibu sedang di kamar mandi di lantai atas. Aku diam-diam juga ke kamar mandi. Ibu tidak menguncinya pintu kamar mandi. Dia sedang buang air kecil. Ibu kaget ketika melihatku . Sebelum ibu bisa mengatakan apapun aku menariknya dari toilet, merobek beberapa kertas toilet, membersihkan tubuhnya, menundukkan ibu diatas wastafel, dan akupun memasukan penisku ke vaginanya dari belakang. "Sayang yang lain bisa tau" bisiknya. Tapi aku mengabaikannya.
Aku menyetubuhinya sampai kami berdua klimaks. aku kemudian menarik kembali celana dalamnya ke atas dan tidak mengizinkan ibu untuk membersihkan dirinya. Untung saja tidak ada yang memergoki kami waktu itu. Tapi untuk sisa hari itu aku tahu ibu lengket celana dalam dan air maniku menetes keluar dari vaginanya. Aku ingat suatu malam aku terbangun horny. Aku sangat ingin ibuku. Jadi aku dengan sangat diam-diam merayap ke kamar tidur orang tua saya. Mereka berdua tengah tertidur. Aku tahu bahwa ayah sedang mabuk dan tertidur pulas. Ibu dalam baju tidurnya dan tampak sangat seksi. Aku pun membangunkan ibu. aku memberi isyarat agar ibu tetap diam. Aku berbisik bahwa aku ingin ibu ke kamarku. Sekitar dua menit kemudian ibu pun sudah berada di kamarku. aku pun menariknya ke tempat tidur dan aku buka baju tidurnya.
"Mada, Ibu perlu tidur dan di selain itu tindakan yang ceroboh sekali pergi ke kamar ibu "gerutunya. aku potongan protesnya lebih lanjut dengan
menciumnya. Aku menarik ibu dan mulai menjilati vaginanya. Ibu pun menjadi basah dan bergairah. aku lalu memasukkan penisku ke vaginanya
dan lalu menyetubuhinya. Lalu, ketika dia meninggalkan kamarku, dia tampak sangat bahagia. Selama dua tahun berikutnya kami berhati-hati dan selalu bercinta di setiap kesempatan memungkinkan. Kadang-kadang kita akan pergi dan menghabiskan akhir pekan di sebuah hotel untuk bercinta. Ayahtidak curiga apa-apa. Aku pikir ayah senang bahwa ibu tidak ada untuk mengomelinya tentang minum.
Dua tahun kemudian kakak perempuan ku menikah dan pindah ke Surabaya. Kakak laki-laki melakukan pekerjaan serabutan dan tinggal di Bandung. Aku pikir hubungan dengan ibu itu selesai ketika aku pergi ke Jogja untuk kuliah. Tapi ibu selalu merindukan ku dan mengunjungi ku pada setiap kesempatan memungkinkan.
Pada akhirnya kami begitu saling mencintai dan Ibu bercerai dengan ayah dan pindah tinggal denganku . Ayah terlalu kecanduan minuman untuk peduli. Menjadi semakin jauh dari keluarga adalah sebuah keuntungan bagi kami. Sekarang kita hidup secara terbuka sebagai suami dan istri dan nyaris tidak bisa berpisah. Ibu tidak pernah keberatan kalu aku terus-menerus mencium, membelai, dan melepaskan pakaian-nya. Kami rata-rata
setidaknya bersetubuh dua kali sehari. Ibu mendapatkan pekerjaan yang lumayan baik di salah satu bank. Saya juga tahu ibu menginginkan anak lagi. "Ibu…." kataku suatu hari, ketika aku berusia sembilan belas tahun dan ibu tiga puluh enam, "Mada ingin ibu hamil."
"Sayang, kita tidak bisa! Bagaimana jika keluarga yang lain tahu dan selain itu siapa yang akan mengurusnya , Mada pergi ke sekolah sedangkan ibu bekerja. "
"Bu" kataku, "Kita kan udah lama ngga pernah ketemu famili-famili kita, dan selain itu paling juga mereka akan pikir kalo itu kecelakaan antara pacar ibu, kalo soal yang mengurusnya…. Mada akan mengurusnya pas Ibu di tempat kerja. " Ibu pertamanya agak ragu, tapi ibu akhirnya setuju..aku senang sekali…singkat cerita akhirnya ibu hamil. Kami sekarang memiliki seorang bayi perempuan. Anggota Keluarga yang lain mengira itu adalah sebuah kecelakaan antara ibu dengan pacar gelapnya.
Ibu sekarang ingin punya anak lagi dari aku. Pada kelahiran putra kami “Ananda”(anak kedua) saya berhenti sekolah dan kami pindah ke Bali. Kami tidak pernah berhubungan lagi dengan seluruh keluarga-keluarga kita yang lain. Kita hidup secara terbuka sebagai suami istri. Aku mulai membuka usaha biro perjalanan, yang berjalan dengan dengan sangat baik. Ibu tinggal di rumah dan mengurus Amanda dan Ananda anak-anak kami. Setiap malam setelah kami menempatkan Amanda dan Ananda ke tempat tidur petualangan yang menyenangkan dimulai. Ibu begitu bergairah sehingga ia sudah basah ketika aku menarik celana dalamnya lepas. Kami kemudian mandi bersama. Kami saling menyabuni dan kemudian dilanjutkan ke kamar tidur untuk bercinta lagi dan lagi.

 

blogger templates | Make Money Online